Temuan pesut mati di Bulungan mempertegas bahwa ancaman terhadap habitat mamalia langka ini masih berlangsung di berbagai wilayah Kalimantan.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Seekor pesut sepanjang hampir dua meter ditemukan mati terjerat jaring nelayan di perairan Antal, Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Direktur Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Danielle Kreb, membenarkan peristiwa tersebut dan menyebut kejadian itu terjadi sekitar dua pekan lalu.
“Iya, memang benar ada dan itu sudah dua minggu lalu,” ujarnya, Selasa (14/4).
Danielle menjelaskan kemunculan pesut di wilayah Bulungan bukanlah fenomena baru. Populasi pesut secara alami tersebar di sepanjang pesisir Kalimantan, termasuk di Kalimantan Timur, Utara, Tengah, Barat, hingga Selatan.
Namun, ia menegaskan pesut yang hidup di air tawar hanya terdapat di Sungai Mahakam, dengan populasi yang kini tersisa sekitar 66 ekor. Populasi ini telah terisolasi sejak ratusan ribu tahun lalu dan tidak lagi berinteraksi dengan pesut laut.
“Yang di Bulungan itu pesut pesisir. Mereka bisa masuk ke muara atau sungai, tapi biasanya di perairan payau,” jelasnya.
Ia menambahkan kematian pesut masih dipicu berbagai faktor, mulai dari terjerat alat tangkap, tertabrak kapal, hingga paparan racun dari rantai makanan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kasus tangkapan samping (bycatch) sebenarnya telah menurun setelah adanya inovasi alat pengusir pesut dan penggantian alat tangkap yang lebih ramah lingkungan.
“Dalam beberapa tahun terakhir, bycatch turun sekitar 68 persen,” ujarnya.
Meski demikian, ancaman lain seperti lalu lintas kapal, termasuk tongkang batu bara, serta pencemaran perairan masih menjadi risiko serius bagi kelangsungan hidup pesut.
Kematian di Bulungan ini menambah daftar tekanan terhadap pesut di Kalimantan, di tengah upaya konservasi yang belum sepenuhnya mampu menekan seluruh faktor risiko.
Di Kalimantan Timur, tekanan terhadap habitat pesut sebelumnya juga menjadi sorotan setelah pemerintah pusat mengeluarkan ultimatum penghentian aktivitas tongkang batu bara di anak sungai Mahakam, yang merupakan habitat inti pesut. Kebijakan itu muncul di tengah kondisi populasi yang kian terbatas dan gangguan habitat akibat lalu lintas kapal, polusi suara, serta penurunan kualitas perairan.
Selain itu, dugaan pencemaran lingkungan juga pernah mencuat menyusul kematian massal biota perairan di sejumlah wilayah, yang semakin mempertegas kompleksitas ancaman terhadap ekosistem sungai dan pesisir.
Kematian pesut di Bulungan ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap spesies tersebut tidak hanya berasal dari satu faktor, melainkan kombinasi aktivitas manusia di perairan, mulai dari perikanan hingga industri.

