EKSPOSKALTIM, Bontang – Simulasi yang digelar Polres Bontang terkait demo anarkis warga yang menuntut janji kampanye Walikota Bontang pada Jumat (2/9) pagi kemarin, cukup menyita perhatian warga yang menyaksikan adegan simulasi tersebut. Sekilas, simulasi ini mirip dengan demonstrasi nyata.
Terkait hal tersebut, Wakapolres Bontang Kompol Mawan Riswandi menjelaskan bahwa simulasi merupakan suatu proses peniruan dari tindakan nyata beserta keadaan sekelilingnya (state of affairs).
“Simulasi kali ini adalah simulasi demo massal anarkis, ceritanya terjadi di rumah jabatan Wali Kota Bontang. Peran kita sangat penting untuk menjaga keamanan yang sewaktu-waktu bisa terjadi dimana pun,” ujarnya disela-sela simulasi yang digelar di depan Makopolres Bontang.
Maksud simulasi ini, lanjut Mawan, untuk melatih kesiapsiagaan polisi dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Melatih anggota agar tetap terampil dan mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing bila terjadi sesuatu.
“Ini juga sebagai upaya untuk melatih polisi agar selalu siaga. Dan juga bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat agar tidak panik dan takut bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Karena peran kami sebagai polisi, akan selalu ada untuk turun tangan membantu,” ungkapnya.
Mawan berharap dengan adanya kegiatan simulasi seperti ini, anggota terlatih tetap siaga selama 24 jam. Pun propesionalisme sebagai anggota polisi bisa maksimal.
“Tugas dan fungsi kami sebagai polisi memang untuk pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat, serta melaksanakan fungsi Kepolisian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum masing-masing,” tandasnya.

