EKSPOSKALTIM, Bontang – Melihat pentingnya air bersih di lingkungan masyarakat, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Bontang Selatan II melakukan trobosan baru dalam dunia kesehatan, dengan membuat alat penyaringan air yang bahannya menggunakan alat–alat sederhana dan barang bekas (babe) yang ada dilingkungan sekitar.
“Alat atau bahan yang digunakan sangat mudah untuk di dapat. Bahan–bahannya seperti batok kelapa, tempat penampungan air bekas bisa seperti galon air, ember–ember bekas, pasir palu, kerikil, dan sapu ijuk,” kata Tiwik Suci Pertiwi, Kesehatan Lingkungan (KESELING) Puskesmas Bontang Selatan II, saat di temui di ruangannya, Kamis (21/7/16) kemarin.
Dia menjelaskan mengapa pihaknya memilih bahan–bahan seperti galon, ember dan ijuk. Karena menurutnya, bahan–bahan tersebut dinilai lebih mudah di dapat oleh masyarakat menengah kebawah, untuk proses pembuatan penyaringan air.
“Bahan– bahan itu kan lumrah di masyarakat, dan lagi bahan tersebut mudah untuk di dapat. Dan kenapa kami memilih batok kelapa, karena mudah untuk di dapat, koral banyak di jumpai di mana saja,” jelasnya.
Tiwik mengatakan, kelompok yang sudah di bentuk sebanyak satu kelompok, dan dalam kelompok tersebut sebanyak tujuh orang. Diimbuhkanya, kelompok ini pertama kali di bentuk pada bulan Maret lalu di Rukun Tetangga (RT) 31, Kelurahan Berbas Tengah, Kecamatan Bontang Selatan, sebagai RT Percontohan pelaksanaan Program Air Bersih Berbasis Barang Bekas (Babe. red).
“Baru tahun ini kami menerapkan program tersebut, karena tahun lalu kami sangat sulit menemukan masyarakat yang mau ikut dalam melaksanakan program ini,” lanjutnya.
Tiwik mengharapkan adanya perhatian dari masyarakat, untuk lebih menerapkan program tersebut. Karena program tersebut bertujuan untuk membantu masyarakat, dalam mendapatkan air bersih lebih cepat.
“Tentunya dengan program ini, kita dapat membantu masyarakat yang kekurangan air. Bahkan sudah banyak masyarakat yang sudah ngomong ke saya, mereka sangat terbantu melalui program ini. Selain itu, kami juga sangat bangga melihat masyarakat yang selalu bergotong royong dalam membuat panyaringan air bersih,” urai Tiwik.
Selain itu, pihaknya juga mengharapkan, agar tidak membuat satu kelompok saja, namun ia berusaha membuat hal yang serupa di seluruh Kota Bontang, sehingga semua masyarakat bisa menikmati air bersih dengan menggunakan penyaringan air bersih melalui Babe.
“Kami berharap dan selalu berusaha untuk membuat hal yang serupa di RT lain, bukan hannya di satu RT ini. Bahkan kalau bisa, seluruh Kota Bontang dapat mengoptimalkan dan melakukan programe ini, agar nantinya tidak ada lagi krisis air bersih,” tungkasnya

