PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Ulama Kaltim: Banyak yang Puasa, tapi Kosong Pahala

Home Berita Ulama Kaltim: Banyak Yang ...

Ulama Kaltim Kiai Haji Muhammad Haiban mengingatkan umat Islam agar tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan dan emosi agar pahala puasa tidak hilang.


Ulama Kaltim: Banyak yang Puasa, tapi Kosong Pahala
Ulama Kaltim KH Muhammad Haiban dalam kajian subuh di Masjid Islamic Center Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (6/3/2026). ANTARA/Ahmad Rifandi

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Ulama Kalimantan Timur Kiai Haji Muhammad Haiban mengajak umat Islam secara sungguh-sungguh menghindari berbagai perbuatan tercela yang berpotensi merusak pahala ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan.

“Banyak orang menahan lapar dan haus namun tidak mendapat pahala di sisi Allah, ibarat mesin pembuat es yang fisiknya beroperasi tetapi sama sekali tidak menghasilkan es di dalamnya,” ujarnya dalam kajian subuh di Masjid Islamic Center Kalimantan Timur di Samarinda, Jumat (6/3). 

Dalam penjelasannya ia menegaskan bahwa secara mendasar terdapat perbedaan antara perkara yang secara fikih membatalkan puasa dengan perilaku buruk yang sekadar menggugurkan ganjaran pahala.

Perkara yang membatalkan puasa, kata dia, membuat ibadah tersebut tidak sah secara syariat sehingga harus diganti di kemudian hari. “Contoh pelanggaran yang membatalkan ibadah ini antara lain adalah aktivitas makan dan minum dengan unsur kesengajaan di siang hari,” katanya.

https://eksposkaltim.com/berita/ulama-kaltim-puasa-lebih-dari-sekadar-lapar-16402.html

Namun jika seseorang makan atau minum karena benar-benar lupa, lanjutnya, puasanya tetap sah dan ia wajib melanjutkan ibadah tersebut hingga waktu maghrib.

Ia juga menjelaskan bahwa hubungan suami istri pada siang hari Ramadhan tidak hanya membatalkan puasa, tetapi juga mewajibkan pelaku membayar denda atau kafarat.

Di sisi lain, ada pula perbuatan yang tidak membatalkan puasa secara hukum, tetapi dapat menghapus pahala yang seharusnya diperoleh dari ibadah tersebut.

Perilaku tersebut, menurut Haiban, berkaitan erat dengan ketidakmampuan seseorang mengendalikan lisan dan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Perkataan buruk, kotor, atau jorok menjadi salah satu penyebab utama hilangnya esensi spiritual puasa.

Ia juga mengingatkan bahwa kemarahan tanpa alasan yang jelas bertentangan dengan tujuan utama ibadah puasa, yakni melatih kesabaran dan pengendalian diri.

https://eksposkaltim.com/berita/guru-saiful-beda-puasa-jangan-bikin-tumbur-16292.html

“Apabila ada pihak lain yang sengaja memancing pertengkaran, umat Islam sangat dianjurkan untuk menahan amarah dan cukup mengucapkan kalimat penolakan halus berbunyi saya sedang berpuasa,” ucapnya.

Selain itu, segala bentuk kedustaan juga termasuk perbuatan yang menghapus pahala puasa, baik berupa kecurangan dalam perdagangan maupun pengucapan sumpah palsu.

Ia menambahkan bahwa kebiasaan mengumpat atau melakukan gibah dengan membicarakan keburukan orang lain di belakangnya juga dilarang, meskipun informasi yang disampaikan tersebut benar.

Untuk meredam emosi yang dapat merusak pahala puasa, Haiban mengingatkan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW agar seorang Muslim segera berwudu ketika sedang marah, sebagai cara menenangkan diri dan menjaga kemurnian ibadah.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :