EKSPOSKALTIM, Bontang - Asosiasi Pengusaha Jasa Transportasi Wisata Laut (APJTWL), diminta untuk memperbaiki kualitas pelayanan jika Wisata Pulau Beras basah tidak ditutup. Hal itu disampaikan Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang Ubayya, saat menggelar dialog dengan APJTWL di ruang rapat Kantor DPRD Bontang, Senin (18/7/2016) kemarin.
Dalam dialog bersama puluhan anggota APJTWL, Ubaya menyampaikan isu penutupan Pulau Beras Basah yang marak dibicarakan saat ini, akan secepatnya dipastikan seperti apa keputusannya, tanpa mengabaikan aspirasi yang telah disampaikan.
“Dalam waktu dekat kita akan koordinasi dengan pihak pemerintahan. Tetap kita akan pertahankan dan perjuangkan aspirasi dari teman-teman. Karena jika sampai ditutup, akan menimbulkan pengangguran baru juga,” kata Ubaya dalam kegiatan dialog.
Ubaya berpesan, jika pulau beras basah berhasil dipertahankan (tak jadi ditutup. red), ia meminta kepada seluruh anggota yang tergabung dalam APJTWL Bontang untuk bisa meningkatkan kualitas pelayanannya. Terutama, harus memiliki legalitas perizinan operasi.
“Tetap kita akan pertahankan, saya jamin jasa transportasi ini tetap berjalan. Syukur jika kedepannya kita dapat pertahankan beras basah ini. Saya mau kualitas pelayanan dari jasa transportasi wisata laut ini terjamin juga. Standarnya juga harus dilengkapi seperti rompi pelampung, dan segala sesuatu kelengkapan kepada keselamatan penumpang,” ulasnya.
Lanjut dia, berkaca dari insiden tenggelamnya kapal di perairan indominco beberapa waktu lalu, Ubaya dengan tegas menyampaikan bahwa pihaknya tidak ingin kejadian semacam itu terulang kembali di wilayah Bontang. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena faktor kelalaian.
“Jangan seperti kejadian kapal tenggelam kemarin. Saya tidak tau itu dimana, yang jelas hal itu terjadi karena memaksa untuk membawa penumpang lebih. Kapasitasnya berapa, dia angkut berapa. Saya tidak mau nanti ada hal seperti itu terjadi,” jelasnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan, apapun keputusan yang diambil pihak pemerintah, dia berharap keadaan akan tetap kondusif. Hal ini akan lebih mudah jika aktif dalam berkoordinasi, semua pihak tanpa ada pengecualian.
“Keputusan belum bisa diberikan, yang jelas kita sama-sama menjaga kondusifitas kota kita ini, baik dari masyarakat, pemerintah, atau pihak perusahaan sekali pun. Jika sudah tak kondusif, tidak hanya 100 buah kapal yang tidak beroperasi lagi, bahkan dampaknya akan kemana-mana, termasuk investor yang akan mikir 7 kali untuk masuk ke Bontang,” tutupnya

