PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

3 Polisi Ditembak Mati TNI, Ada Setoran tapi Kapolsek Menolak?

Home Berita 3 Polisi Ditembak Mati Tn ...

3 Polisi Ditembak Mati TNI, Ada Setoran tapi Kapolsek Menolak?
Perbandingan rumah mewah yang diduga milik Kopka Bazarsyah (foto bawah) dan Rumah AKP Anumerta Lusiyanto. Foto: Istimewa

EKSPOSKALTIM, Jakarta - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap fakta Pembantu Letnan Satu (Peltu) TNI Lubis pernah mencoba menyuap Kapolsek Negara Batin, AKP (Anumerta) Lusiyanto.

Suap tersebut diduga bertujuan agar AKP Lusiyanto tidak mengganggu aktivitas judi sabung ayam yang dikelola oleh Peltu Lubis dan rekannya, Kopka Basarsyah.

"Kapolsek sebenarnya sudah berulang kali menegur Peltu Lubis agar menghentikan perjudian ini. Tapi bukannya berhenti, mereka malah mencoba menyuapnya, dan itu tegas ditolak oleh AKP Lusiyanto," ujar Komisioner Kompolnas, Choirul Anam dikutip media ini dari YouTube Kompas TV, Selasa (25/3).

Awalnya, Kompolnas sempat meragukan bahwa AKP Lusiyanto benar-benar menolak suap tersebut. Namun, setelah melakukan pengecekan langsung ke rumahnya, Anam menyimpulkan bahwa kapolsek memang tidak menerima uang tersebut.

Hal ini didasarkan pada kondisi rumahnya yang sederhana, berbeda dengan beberapa rumah lain di sekitar lokasi yang diduga berkaitan dengan Peltu Lubis dan Kopka Basarsyah.

"Jujur, awalnya kami sulit percaya. Tapi setelah melihat sendiri, rumahnya sangat sederhana, sementara ada rumah-rumah lain yang tampaknya memiliki keterkaitan dengan para oknum itu," jelasnya.

Sebelumnya, rumah mewah milik dua anggota TNI terduga pelaku penembakan terhadap tiga anggota Polres Way Kanan viral di media sosial.

Terlihat rumah mewah milik Kopka Basarsyah yang dicat berwarna putih lengkap dengan pagar besi berwarna hitam.

Terlihat pula Fortuner hitam di garasi rumah milik Kopka Basarsyah, mobil yang sama diunggah olehnya di akun media sosial miliknya.

Kedua rumah milik terduga pelaku penembakan itu bertolak belakang dengan Kapolsek Negara Batin AKP Anumerta Lusiyanto yang menjadi korban.

Jauh dari kata mewah, rumah AKP Anumerta Lusiyanto justru hanyalah bangunan sederhana. Rumahnya tidak dilapis dengan cat seperti kedua pelaku melainkan hanya plesteran semen semata.

Pada beberapa bagian sisi rumahnya justru terlihat bata merah yang menjadi pondasi tanpa dilapis dengan dinding semen. Selain itu tidak ada pagar pembatas ataupun kendaraan mewah di rumah milik AKP Anumerta Lusiyanto.

Klarifikasi Isu Setoran Uang

Anam juga menyesalkan adanya tudingan yang menyebut bahwa AKP Lusiyanto serta dua polisi lainnya yang tewas, yakni Aipda (Anumerta) Petrus Aprianto dan Briptu (Anumerta) M Ghalib Surya Ganta, turut menerima uang dari judi sabung ayam.

"Itu yang bikin miris. Jangan membangun opini yang menyesatkan. Ini ada tiga anggota polisi yang telah gugur," tegasnya.

Kapolda Lampung, Irjen Helmy Santika, turut membantah adanya aliran setoran judi sabung ayam kepada pihak kepolisian di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa tuduhan semacam ini harus didukung oleh bukti yang valid.

"Saya paham ada isu soal setoran itu," ujarnya dalam wawancara, Jumat (21/3) malam.

Menurutnya, rumor ini berawal dari unggahan di media sosial yang kemudian berkembang menjadi narasi publik.

"Kalau kita telusuri jejak digitalnya, tuduhan ini muncul dari media sosial yang menyebut adanya percakapan antara Kapolsek dan Peltu Lubis," jelasnya.

Helmy menegaskan bahwa kebenaran informasi tersebut harus dibuktikan dengan data konkret. "Jangan asal tuduh. Buktinya mana?" katanya.

Sebagai respons atas isu ini, Mabes Polri dan Polda Lampung telah menurunkan tim untuk melakukan klarifikasi dan verifikasi di lapangan.

"Propam, Irwasum Mabes Polri, dan Polda Lampung sudah turun tangan untuk memastikan fakta-faktanya," tambahnya.

Kronologi Insiden Penembakan

Tragedi maut terjadi pada Senin (17/3) sore di Negara Batin, Way Kanan, saat polisi melakukan penggerebekan di arena judi sabung ayam. Tiga anggota Polsek Negara Batin tewas setelah ditembak oleh dua anggota TNI yang diduga terlibat dalam aktivitas ilegal tersebut.

Ketiga polisi itu tewas akibat luka tembak di kepala. Peluru diduga berasal dari senjata Kopka Basarsyah dan Peltu Lubis, yang merupakan personel Subramil Negara Batin di bawah Kodim 0427/WK.

Pasca-insiden, kedua prajurit TNI yang diduga sebagai pelaku utama telah diamankan oleh Polisi Militer. Salah satu dari mereka disebut-sebut sebagai pemilik arena perjudian.

Dugaan awal menyebutkan bahwa peristiwa ini dipicu oleh ketidaksepakatan terkait pembagian uang setoran dari praktik judi sabung ayam. Kabarnya, terdapat kesepakatan bahwa uang setoran harian sekitar Rp1 juta diberikan kepada pihak kepolisian, ditambah uang tambahan untuk bensin, rokok, dan kebutuhan lain hingga total Rp2,5 juta per hari. Namun, adanya permintaan tambahan diduga memicu konflik yang berujung maut.

"TNI dan polisi sama-sama mendapat keuntungan dari praktik ini. Peltu Lubis, yang menjabat sebagai Danpos Ramil Negara Batin, secara rutin menyetorkan sejumlah uang kepada Kapolsek Negara Batin, AKP Anumerta Lusiyanto," ungkap Kepala Penerangan Kodam II/Sriwijaya, Kolonel Inf Eko Syah Putra, Kamis (20/3).

Proses Hukum dan Transparansi

Kasus ini menjadi sorotan nasional. Publik menantikan transparansi dalam proses hukum agar keadilan benar-benar ditegakkan.

Praktik perjudian sabung ayam ini diduga telah berlangsung cukup lama. Analis kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies, Bambang Rukminto, menilai bahwa penyataan pihak TNI itu adalah pernyataan serius.

Karenanya, Rukminto mendorong TNI juga harus segera membuktikan apakah benar ada setoran yang diberikan.

"Logikanya, bagaimana mungkin Koramil dan Polsek tidak tahu bahwa di wilayah mereka ada praktik judi sabung ayam? Ngapain saja mereka selama ini?" ujarnya saat dimintai tanggapan media ii, Minggu (23/3).

Rukminto juga menilai bahwa kasus ini seharusnya disidangkan di peradilan umum untuk menjamin transparansi.

"Hanya saja, undang-undang kita saat ini belum mengatur hal itu. Di sisi lain, apakah mungkin tentara mau diperiksa oleh polisi yang juga diduga terlibat? Sejauh mana polisi bisa bebas dari kepentingan dalam kasus ini?" ujarnya.

Kasus ini masih terus bergulir, dan masyarakat menunggu langkah hukum yang tegas agar tidak ada impunitas bagi para pelaku.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :