Samarinda, EKSPOSKALTIM – Samarinda mendidih sejak dini hari. Senin (1/9) pukul 02.00 Wita, 22 mahasiswa lintas fakultas Universitas Mulawarman digiring polisi dari Kampus FKIP di Jalan Banggeris. Mereka langsung dinaikkan ke mobil dan dibawa ke Mapolres Samarinda.
Polisi menuding mereka tengah menyiapkan aksi dengan barang bukti puluhan botol molotov. Pengacara publik LBH Samarinda, Irfan Ghazy, membenarkan seluruh yang ditangkap adalah mahasiswa Unmul. “Mereka sekarang sedang dalam proses pemeriksaan di Polres Samarinda,” ujarnya.
Meski penangkapan berlangsung, Aliansi Mahakam, gabungan mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil, tetapmenggelar aksi di depan DPRD Kaltim.
Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) menyebut penangkapan ini sarat kejanggalan. Barang bukti molotov pun dinilai penuh tanda tanya. “Polisi asal menyisir mahasiswa di kampus tanpa memperjelas peran masing-masing. Logikanya konyol, tangkap dulu, alasan dicari belakangan,” tegas KIKA dalam pernyataan resminya.
KIKA juga menuding langkah kepolisian sebagai cara melemahkan aksi. Polisi sudah lebih dulu menggelar konferensi pers sebelum pemeriksaan selesai. Bukan kebetulan operasi ini dilakukan sesaat sebelum aksi.
"Cara-cara menjebak seperti ini bukan hal baru, kekuasaan sudah terbiasa mengkambinghitamkan untuk membungkam perlawanan,” lanjut KIKA.
KIKA menegaskan penangkapan tidak akan menghentikan gerakan. “Apa pun risikonya, termasuk intimidasi dan represi aparat, akan kita hadapi bersama. Kami menolak vandalisme dan perusakan fasilitas publik. Tapi kami juga menolak upaya kekuasaan membungkam gerakan dengan cara-cara kotor.”
Dalih Kepolisian
Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar menyatakan, dari 22 mahasiswa yang ditangkap, empat orang ditetapkan sebagai tersangka. Mereka diduga merakit 27 bom molotov di lingkungan Kampus 2 Unmul.
“Dari 22 orang yang kami amankan semalam, empat orang berinisial MZ, FK, MAG, dan AR sedang kami proses lebih lanjut karena diduga kuat mengetahui dan berperan langsung dalam pembuatan bom molotov,” kata Hendri dalam konferensi pers, Senin.
Menurut polisi, barang bukti ditemukan setelah laporan intelijen tentang rencana aksi anarkis. Di lokasi, aparat mengamankan 27 molotov siap pakai, satu jeriken pertamax, gulungan kain perca, dan gunting. Hendri menyebut keempat mahasiswa memiliki peran berbeda, mulai dari membawa bahan baku, memotong kain, hingga merakit botol.
Sementara 18 mahasiswa lain dipulangkan setelah interogasi awal karena tidak terbukti terlibat. Polisi telah berkoordinasi dengan pihak kampus untuk pengembalian mereka.
“Setelah interogasi, 18 mahasiswa ini tidak terbukti memiliki kaitan langsung dengan pembuatan atau penyimpanan bom sehingga kami kembalikan kepada pihak universitas,” ujar Hendri.
Ia menegaskan penyidikan akan berjalan transparan dan adil, serta menyebut kasus ini ulah segelintir oknum, bukan gerakan mahasiswa secara keseluruhan. “Kami tetap berkomitmen memberikan pengamanan humanis terhadap aksi unjuk rasa, agar kebebasan berpendapat tersalurkan dengan tertib dan damai,” tambahnya.

