Nekropsi terhadap pesut Mahakam legendaris yang ditemukan mati di Kutai Kartanegara mengungkap adanya tanda benturan keras dan ancaman serius mikroplastik di Sungai Mahakam.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Hasil penelitian Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YK RASI) mengungkap sederet fakta baru kematian "Lion", pesut Mahakam jantan di Kota Bangun, Kutai Kartanegara.
Peneliti senior RASI Danielle Kreb mengungkap bahwa Lion telah dipantau melalui foto identifikasi sejak tahun 1999. Saat pertama kali diidentifikasi, Lion diperkirakan sudah berusia 7 tahun. Dengan demikian, pada saat kematiannya, Lion diperkirakan telah menginjak usia sekitar 34 tahun.
Terkait kondisi fisik, Danielle menjelaskan bahwa saat ditemukan, kulit Lion sudah mengelupas akibat proses pembusukan yang cepat. Selain itu, ditemukan kondisi lidah membengkak, keluarnya darah dan busa dari mulut, serta luka lebam di bagian leher.
Memar kemerahan tersebut meresap hingga ke jaringan otot, yang mengindikasikan adanya benturan keras. "Ada lebam di bagian leher dan memar sampai ke otot daging. Artinya ada benturan. Jika benturannya kecil, tidak akan sampai seperti ini. Kami sudah mengambil sampel tersebut untuk didalami lebih lanjut melalui uji laboratorium," ujar Danielle, Kamis (7/5/2026).
Temuan lain menunjukkan fungsi pencernaan yang belum optimal, yang kemungkinan disebabkan oleh gangguan jaring di dalam lambung. Hasil pemeriksaan awal juga menunjukkan masih adanya udara di dalam paru-paru Lion saat mati, namun tidak ditemukan air di dalamnya. Sampel organ kini telah dibawa ke Laboratorium Toksikologi dan Kualitas Perairan Fakultas Perikanan Universitas Mulawarman (Unmul).
"Kami akan melakukan cek toksikologi, histopatologi, mikroplastik, serta pemeriksaan logam berat untuk melihat apa saja yang ia konsumsi sebelum mati," tambahnya.
Ancaman Mikroplastik dan Populasi Kritis
Salah satu poin krusial yang disoroti Danielle adalah ancaman mikroplastik di perairan Mahakam. Peneliti asal Belanda ini menyebutkan bahwa hampir di setiap pemeriksaan pesut yang mati, selalu ditemukan kandungan mikroplastik yang mengganggu penyerapan nutrisi.
"Kemarin ada temuan pada pesut usia 3,5 tahun yang mati, juga ditemukan mikroplastik di lambung dan ususnya. Ini masalah serius di Sungai Mahakam," tegas Danielle.
Kematian Lion menambah catatan kelam konservasi mamalia air ini. Saat ini, populasi pesut Mahakam diperkirakan hanya tersisa 65 ekor.
Danielle mendesak pemerintah untuk segera meningkatkan frekuensi patroli dan razia terhadap praktik perikanan destruktif. Penggunaan alat tangkap seperti setrum dan racun tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam ketersediaan pakan bagi satwa endemik tersebut.
Selain itu, ia menyoroti gangguan dari aktivitas angkutan batu bara atau tongkang. Danielle meminta agar jalur tongkang di kawasan konservasi diatur ulang agar hanya melintas di jalur tengah sungai dan menjauhi area pinggiran.
"Suara mesin tongkang membuat pesut kesulitan berorientasi karena sistem sonar mereka terganggu. Jika tongkang lewat dalam jarak dekat, pesut cenderung panik dan terlalu sering muncul ke permukaan untuk bernapas. Hal ini meningkatkan risiko stres dan benturan," ungkap Danielle.
Para pegiat konservasi juga menuntut pelarangan operasional tongkang pada malam hari di wilayah-wilayah sensitif habitat pesut. Danielle mengingatkan pentingnya kepatuhan terhadap Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 52 Tahun 2012 yang melarang angkutan tongkang di anak sungai yang sempit karena membahayakan keselamatan pesut.
Penguatan regulasi lokal juga dinilai mendesak seperti pengesahan Revisi Perda Perikanan Kutai Kartanegara Nomor 13 Tahun 2017 serta restorasi sempadan sungai untuk menjaga pakan alami pesut.
Kronologi Penemuan
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan (PK) Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menjelaskan bahwa kronologi penanganan bermula pukul 11.06 WITA setelah pihaknya menerima laporan dari YK RASI.
"Tim gabungan dari Balai PK Pontianak, YK RASI, dan Pokdarwis Pela segera berkoordinasi untuk melakukan pencarian. Bangkai pesut akhirnya ditemukan oleh Pokdarwis Pela pada pukul 12.17 WITA dan langsung dievakuasi ke rakit YK RASI di Desa Sangkuliman," ujar Syarif Iwan.
Petugas melakukan penanganan awal dengan pemberian es batu dan penutup terpal untuk memperlambat pembusukan. Berdasarkan data teknis, pesut "Lion" memiliki panjang 235 cm, berat 152 kilogram, berjenis kelamin jantan, jarak antarujung ekor 70 cm, tinggi sirip atas 4,5 cm, dan panjang sirip bawah dari pangkal depan 40 cm.

