PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Ayam Suwir MBG Vidatra Positif E. coli, Sumber Kontaminasi Belum Terungkap

Home Berita Ayam Suwir Mbg Vidatra Po ...

Hasil pemeriksaan laboratorium Dinas Kesehatan Bontang menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada ayam suwir kemangi dalam paket MBG yang dikonsumsi siswa Yayasan Vidatra. Temuan itu kini mengarahkan penelusuran pada bahan baku, proses pengolahan hingga distribusi makanan.


Ayam Suwir MBG Vidatra Positif E. coli, Sumber Kontaminasi Belum Terungkap
Salah satu murid SMP Vidatra Bontang yang harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit LNG Badak. Foto: Dok.Ekspos

EKSPOSKALTIM, Bontang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada salah satu menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan kepada siswa Yayasan Vidatra. E.coli merupakan salah satu patogen sumber bakteri penyebab penyakit.  

Temuan tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap empat sampel makanan, dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 5 yang didistribusikan pada Senin (10/8).

Empat menu yang menjadi objek pemeriksaan meliputi nasi uduk, ayam suwir kemangi, tahu goreng, dan tumis wortel.

Berdasarkan, dari seluruh sampel tersebut, bakteri patogen hanya ditemukan pada ayam suwir kemangi.

Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan temuan E. coli menunjukkan adanya persoalan yang perlu dievaluasi dalam aspek higiene dan sanitasi pengolahan makanan.

“Pemeriksaan laboratorium pada beberapa sampel menunjukkan bahwa pada ayam suwir mengandung Escherichia coli (E. coli),” ujarnya, Selasa (18/8). 

Meski demikian, Toetoek menjelaskan tidak semua jenis E. coli bersifat berbahaya. Bakteri tersebut pada umumnya memang dapat ditemukan secara normal di saluran pencernaan manusia maupun hewan.

Namun, beberapa jenis tertentu dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti diare dan keracunan makanan.

Pihaknya berencana berkoordinasi dengan DKP3 Bontang, untuk mengevaluasi aspek tersebut.

“Kalau kami kan meninjau medisnya. Tapi terkait bahan pangan, itu tupoksi Dinas ketahanan pangan, yang harus mengevaluasi penggunaan ayam frozen,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bontang, Sudirman, menyebut proses pemorsian menjadi salah satu bagian yang diperiksa.

Saat inspeksi dilakukan, Dinkes menemukan proses pendinginan makanan dan pemorsian berlangsung di ruangan yang sama. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu bahan evaluasi.

Penggunaan kemangi mentah dalam menu ayam suwir juga turut diperiksa. Dinkes akan melihat, kemungkinan kontaminasi berasal dari bahan tersebut maupun air yang digunakan saat proses pencucian.

“Bisa saja ada saat proses memasak menggunakan kemangi mentah. Nanti penggunaan air untuk mencuci sayuran juga akan kami pantau,” bebernya.

Tak hanya bahan dan proses pengolahan, penggunaan ayam beku sebagai bahan baku juga akan ditelusuri.

Faktor lain yang menjadi perhatian adalah rentang waktu antara makanan selesai dimasak hingga diterima oleh siswa.

Menurut Sudirman, proses distribusi yang membutuhkan waktu cukup lama berpotensi memengaruhi keamanan pangan.

“Proses memasak sampai ke penerima manfaat membutuhkan waktu yang lama. Bahkan bisa sampai 10 jam. Ini juga mungkin menjadi faktor utamanya,” katanya.

Kendati telah ditemukan E. coli pada ayam suwir kemangi, Dinkes belum menyimpulkan bahwa bakteri tersebut secara langsung menjadi penyebab keluhan kesehatan yang dialami siswa.

Ia juga menjelaskan tidak semua orang yang mengonsumsi makanan terkontaminasi akan mengalami gejala yang sama.

Kondisi daya tahan tubuh masing-masing individu dapat memengaruhi respons terhadap paparan bakteri.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :