Samarinda, EKSPOSKALTIM - Suara mesin klotok membelah perairan Muara Badak Ulu, Kutai Kartanegara. Di atasnya, Syamsul mendayung hidup. Baginya, tambak bukan lagi sekadar kolam, melainkan panggung di mana manusia dan alam harus berdamai.
Dulu ia ikut arus logika "bersih lebih baik." Bakau ditebang habis, tambak dibuka lebar. Hasil awal memang melimpah. Lalu datang kenyataan: udang mati muda, air keruh, panen merosot hingga tinggal separuh. Delta Mahakam pun kehilangan ribuan hektare hutan mangrove.
Titik balik lahir ketika silvofishery diperkenalkan. Alih-alih memusuhi bakau, petambak diajak merangkulnya. Syamsul mulai menanam kembali pada 2006. Butuh tiga tahun hanya untuk melihat batang-batang kecil tegak, tetapi kini, belasan tahun kemudian, akar-akar itu menjelma benteng hijau yang menyangga tambaknya. Udang windu, bandeng, dan kepiting tumbuh dalam ekosistem yang saling menopang.
“Sekarang jauh lebih bagus kalau banyak bakaunya,” ujarnya. Daun gugur jadi pupuk alami, akar jadi rumah plankton, dan perairan jadi lebih stabil.
Konsep silvofishery ini dikembangkan oleh Prof Esti Handayani Hardi, Guru Besar Unmul. Sistem polikultur yang ia rancang menciptakan “aktivitas melingkar”: kotoran udang menumbuhkan alga untuk bandeng, kotoran bandeng melahirkan plankton untuk udang. Putaran alami ini mengurangi pakan buatan dan memperbaiki mutu air.
Hasilnya terasa: panen yang dulu hanya 5–6 bulan sekali, kini bisa parsial setiap bulan. Seorang petambak bahkan naik dari 50 kilogram menjadi 1 kuintal dalam satu siklus.
Prof Esti tak berhenti di situ. Ia menolak solusi kimia, memilih riset ekstrak tumbuhan sebagai prebiotik, antibakteri, hingga imunostimulan bagi udang. Inovasi organik ini sejalan dengan misi besar: tambak yang ramah lingkungan, rendah karbon, dan tahan krisis.
Model Delta Mahakam kini dilirik nasional. Dari Aceh sampai NTT, dari Surabaya hingga pantai utara Jawa, Prof Esti mengajar lewat Sekolah Lapang. Tahun 2025, ia bahkan bekerja sama dengan Stirling University dan British Council untuk meneliti peran mangrove menyerap bakteri resisten antibiotik.
Bagi Syamsul, teori itu sudah menjelma kenyataan. Setiap hari ia mengarungi perahu kecil menuju tambak, menyaksikan bahwa rimbun bakau bukan lagi pengganggu, tapi penjamin masa depan.

