EKSPOSKALTIM, Mahulu - Menyikapi peristiwa ledakan bom di salah satu gereja Kota Samarinda yang menewaskan seorang bocah 2, 5 tahun beberapa waktu lalu, pihak kepolisian pusat ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) berlakukan siaga satu.
Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Kutai Barat AKBP Hindarsono, melalui Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Long Bagun Kabupaten Mahulu AKP Rahmat Hadi F menerangkan, langkah tersebut dilakukan guna mengantisipasi terjadinya kejadian serupa di Kabupaten Mahulu.
Dalam pelaksanaannya, pihak Polsek Long Bagun menggelar sosialisasi dan himbauan ke setiap kampung, untuk tidak mudah terprovokasi dan terpengaruh dengan hal-hal yang terjadi di luar wilayah Kabupaten Mahulu yang berbau SARA.
Sebab kata dia, ketentraman dan kenyamanan masyarakat di kabupaten mahulu selama ini terjalin baik. Pelbagai Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) di Kabupaten Mahulu terlah terjalin bak satu keluarga tanpa melihat perbedaan.
"Berkaca dengan kasus yang baru-baru ini terjadi di Samarinda, kami terus melakukan sosialisasi dan gelar patroli rutin dari kampung ke kampung untuk memberikan himbauan kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dengan hal-hal yang berbau SARA," terangnya, Rabu (16/11).
Kejadian yang terjadi baru-baru ini di salah satu gereja, menjadi alasan di Kabupaten Mahulu ini diberlakukan siaga satu. Karena menurutnya, 70 persen warga di daerah ini beragama Khatolik.
“Maka dari itu, dalam hal ini Kepolisian bekerjasama dengan rekan-rekan TNI bersama-sama melakukan penjagaan pada saat mereka melakukan ibadah, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat berhujung pada SARA,"pungkasnya.(*)

