EKSPOSKALTIM, Bontang - Edwin Sofyan mungkin bukan nama yang ramai diperbincangkan di media nasional. Tapi di tanah kelahirannya, Sambaliung, sebuah kecamatan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, nama Edwin kini menjadi simbol harapan dan inspirasi baru.
Putra Dayak ini baru saja menorehkan prestasi membanggakan: meraih gelar doktor dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Tak sekadar bergelar doktor, Edwin juga tercatat sebagai doktor muda pertama dari etnis Dayak di Berau. Disertasinya berjudul “Peran Badan Usaha Milik Desa dalam Meningkatkan Perekonomian Kampung Pegat Bukur Kabupaten Berau”, sebuah kajian yang lahir dari kepeduliannya terhadap tanah kelahiran dan potensi desa-desa di pelosok Kalimantan.
“Saya melihat langsung bagaimana potensi lokal bisa berkembang jika dikelola dengan baik,” kata Edwin saat ditemui di Surabaya, Jumat (3/5).
“Penelitian ini adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai anak kampung yang ingin melihat daerahnya maju,” sambungnya, dikutip dari Antara.
Tak hanya dikenal sebagai akademisi, Edwin juga pernah menjabat Ketua Lembaga Adat Dayak Kung Kemul Kalimantan Cabang Berau periode 2019–2023. Kiprahnya sebagai tokoh adat sekaligus aparatur sipil negara (ASN) membuatnya aktif mendorong berbagai program pemberdayaan masyarakat—dari pelatihan keterampilan hingga advokasi hak-hak masyarakat adat.
Menurut Edwin, pendidikan tinggi bukan sekadar soal mengejar gelar, melainkan sarana untuk membawa perubahan sosial. “Saya ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya dari kalangan Dayak, bahwa kita bisa berprestasi dan berkontribusi tanpa harus meninggalkan akar budaya kita,” ujarnya.
Putra dari almarhum Jiang Bos, seorang tokoh Dayak Berau, ini juga menyoroti pentingnya kesiapan masyarakat adat dalam menghadapi tantangan zaman, terutama di tengah pesatnya kemajuan teknologi. Ia percaya, keterbatasan akses pendidikan tak boleh lagi menjadi penghalang untuk maju.
“Pendidikan adalah kunci. Tapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana ilmu itu digunakan untuk membuat hidup orang lain menjadi lebih baik,” tuturnya, mantap.
Dengan gelar doktor yang kini disandangnya, Edwin tak sekadar menambah deretan akademisi Dayak di Indonesia, tetapi juga membuka jalan bagi banyak anak kampung lain yang bermimpi besar. Bahwa dari Pegat Bukur hingga podium akademik tertinggi, semuanya mungkin, asal ada tekad dan kerja keras.

