EKSPOSKALTIM, Jakarta- Kementerian pertanian terus berupaya manjaga stabilitas harga beras. Bekerja sama dengan Bulog, TNI, dan Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA), Kementerian Pertanian telah menggelar operasi Serap Gabah Petani pada Maret-April 2016 di provinsi sentra produksi padi.
Operasi tersebut bertujuan memastikan baik petani maupun konsumen mendapatkan harga yang wajar. termasuk dengan memastikan gabah hasil panen petani masuk ke Gudang Bulog serta memastikan Bulog tetap menyerap gabah petani bagaimanapun kualitasnya
Atas upaya tersebut, Kementerian Pertanian berkeyakinan harga beras telah berangsur turun sejak musim panen tiba. Pemberitaan tentang harga beras yang masih tinggi pada saat ini diyakini hanya kasuistis.
"Intinya harga gabah turun (dan menyusul, harga beras ikut turun). Kalau harga beras tetap tinggi berarti ada rantai pasok yg masih terlalu panjang," tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, seperti dikutip kompas, Senin (11/4/2016).
Bagi petani, operasi ini menjamin hasil panennya setidaknya mendekati harga pembelian pemerintah (HPP) di level harga Rp 3.700 per kilogram untuk gabah kering panen dan Rp 7.300 per kilogram beras.
Survei yang digelar Kementerian Pertanian bersama jajaran Divisi Regional Bulog menunjukkan harga beras telah turun di rentang 20 persen hingga 30 persen. Bila sebelum panen raya dimulai pada bulan ini harga beras sekitar Rp 9.000 sampai Rp 10.000 per kilogram, sekarang sudah turun ke kisaran Rp 7.300 hingga Rp 7.500 per kilogram.
Selain karena terjaminnya stok pada musim panen seperti sekarang, harga beras berangsur turun juga hasil dari peningkatan efisiensi rantai pasokan. "Sekarang ada kerja sama semua pihak terkait (untuk jalur distribusi beras)," tegas Amran.
Bila semula ada 8 sampai 9 level distribusi yang harus dilewati hasil panen sampai ke tangan konsumen, sekarang tinggal 4 tahapan.

