EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Meski sempat turun di level Rp 80 ribu, harga cabai di Kota Minyak kembali meroket hingga mencapai Rp 130-140 per kilogram (Kg).
Setidaknya kenaikan serta tingginya harga itu berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional selama sepekan belakangan.
Faktor utama kenaikan tak lain pasokan cabai yang berkurang dari para Distributor. Terkait pasokan, selama ini Kota Minyak menggantung harapan ke Distributor dari luar daerah.
Bahkan mengingat kondisi tersebut guna memenuhi kebutuhan penjualan, pedagang cabai mengaku mengoplos cabai hijau dengan cabai merah.
Tidak jauh berbeda dengan sejumlah daerah lain di Indonesia, petani atau distributor dari daerah lain yang biasa memasok cabai ke Balikpapan mengaku kerap terkendala cuaca ektrim.
Sehingga turut memicu tingginya harga cabai. Sedangkan menurut pedagang harga cabai melonjak sejak awal 2017 lalu. Hanya sempat turun ke angka Rp 40 ribu hingga 50 ribu rupiah pada perayaan Imlek lalu.
“Kini sudah kembali tinggi harganya,” ujar Sumardi (52), salah seorang pedagang Cabai di Pasar Pandan Sari, Balikpapan Barat.
Bahkan Sumardi mengaku harus mencampur cabai agar dapat dibeli dan dijangkau oleh para pengunjung pasar. Cabai hijau dicampur cabai merah dijual seharga 100 ribu rupiah.
Sementara hasil wawancara dengan pedagang cabai lainnya, Yuliani (45) menduga tingginya harga cabai tak terlepas dari adanya permainan Kartel dari Sulawesi Tengah.
"Seingat Saya hal itu terjadi sebelum adanya sidak oleh pemerintah kota dan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) pada akhir januari 2017 lalu," ucap perempuan berjilbab ini.
Sementara seperti diketahui selama ini kaltim sendiri memang menggantungkan pasokan bahan kebutuhan pokok dan sayuran dari pulau sulawesi dan jawa. Peran distributor terbilang besar dalam menentukan serta mengendalikan harga pasaran komoditas tersebut.

