Kebiasaan minum kopi dan teh saat sahur maupun berbuka dinilai tidak berbahaya, namun efek kafein yang memicu pengeluaran cairan hingga mengganggu tidur menjadi hal yang perlu diperhatikan selama Ramadan.
EKSPOSKALTIM - Guru Besar bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Institut Pertanian Bogor, Ali Khomsan, mengingatkan konsumsi teh dan kopi selama Ramadan perlu dipertimbangkan dari sisi efek kafein terhadap tubuh.
Ia menjelaskan kafein dalam kopi bersifat diuretik, yakni merangsang ginjal untuk mengeluarkan urin lebih sering sehingga berpotensi mengurangi cairan tubuh.
“Yang pertama kopi itu bersifat diuretik sehingga orang yang minum kopi akan lebih banyak mengeluarkan cairan via urine. Teh itu juga mengandung kafein tetapi mungkin tidak setinggi kopi sehingga dampaknya tidak sehebat seseorang minum kopi,” ujarnya, Senin (23/2).
Meski demikian, Ali menilai konsumsi kopi dan teh secara umum tidak langsung mengganggu kesehatan. Namun, efek diuretik tersebut tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi keseimbangan cairan tubuh saat berpuasa.
Kondisi ini berpotensi membuat tubuh lebih mudah mengalami dehidrasi yang berdampak pada rasa lemas selama menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, kafein juga memiliki efek stimulan yang dapat membuat tubuh tetap terjaga, sehingga berisiko mengganggu pola tidur selama Ramadan.
“Kafein bisa membuat orang sulit tidur, sehingga pola istirahat bisa terganggu,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan menambahkan gula dalam kopi atau teh yang berpotensi meningkatkan asupan gula harian jika tidak dikontrol dengan baik.
Sementara itu, penggunaan susu dalam campuran kopi atau teh disebut tidak serta-merta menghilangkan kandungan gizinya. Namun, menurut Ali, peran susu menjadi tidak dominan karena lebih berfungsi sebagai penambah cita rasa.
“Oleh karena itu memang saya lebih menganjurkan ketika sahur atau berbuka minum cairan lain, sehingga dampaknya tidak terlalu besar,” katanya.

