EKSPOSKALTIM, Bontang - Sepinya aktifitas hilir mudik bus antar kota Bontang-Samarinda di terminal penumpang angkutan darat tak hanya membuat pemasukan bagi supir bus berkurang.
Mayoritas Pedagang Kaki Lima (PKL) juga merasakan hal yang sama. Pendapatan mereka kini melorot tajam.
Seperti yang dikeluhkan Nur Hasyim (76) salah satu pedagang asongan yang sudah belasan tahun berjualan disana. Hari-hari sebelumnya, ia mampu menjual 20 - 25 botol Aqua ukuran tanggung. Kini lelaki paruh baya itu hanya bisa menjual 5 - 10 botol per harinya.
"Tidak seperti sebelumnya, banyak penumpang banyak juga yang laku, sekarang orang-orang perusahaan tambang aja yang beli sebelum berangkat dari sini," lirih Nur Hasyim saat ditemui di kawasan terminal, Jalan S Parman, Kelurahan Gunung Telihan, Kecamatan Bontang Barat, Sabtu (11/2) siang.
Hal senada diungkapkan oleh Suwito (53) salah satu PKL lain. Bahkan pria berambut putih ini mengeluhkan kondisi jualannya yang tak kunjung laku. Alhasil hingga sore tidak ia belum mendapat pemasukan.
“Semakin hari pemasukan saya juga semakin turun dari biasannya,” kata Suwito.
"Biasanya sehari itu kalau rame bus dapat 300 ribu. Sekarang sepi kadang dapat 50 ribu kadang juga tidak nyampe," ujarnya.
Ya, dari pantauan media ini, perlahan bus antar kota sudah mulai beroperasi pasca aksi mogok yang sebelumnya dilakukan sejak 21 Januari silam.
Meski demikian, hal itu tidak selaras dengan jumlah penumpang yang sampai sejauh ini masih terlihat sepi.
Terkait sepinnya penumpang, sejauh ini EKSPOSKaltim belum bisa mendapat konfirmasi dari pihak Dishub maupun pengelola terminal angkutan darat Bontang.

