EKSPOSKALTIM.com, Kutim - Sebanyak 40 siswa di SMAN 1 Sangatta Utara (Sangut) keluar pada tahun lalu. Hal itu diduga karena dampak penerapan sistem zonasi yang dinilai memberi banyak konsekuensi.
Kepala SMAN 1 Sangatta Utara, Hasbi menjelaskan, anak yang diterima di sekolahnya adalah anak yang bermukim di lingkungan zonasi SMAN 1 Sangut. Yakni mencakup kawasan Sangatta Utara.
“Tapi tidak semua anak memiliki kedisiplinan yang cocok dengan sekolah kami. Sebab di sini (SMAN 1 Sangut) penerapan disiplin belajar cukup tinggi,” ujar Hasbi kepada halokaltim.com, Jumat (5/7/19).
Dia menerangkan, beberapa anak ada yang suka menyepelekan waktu sekolah. Maunya masuk jam 9.00 Wita, lalu pulang jam 11.00 Wita. Tapi sekolah bukan seperti itu. Ada jam belajar yang diberlakukan dan telah disepakati.
Akhirnya, ujar Hasbi, ujung-ujungnya sebanyak 40 siswa mengundurkan diri atau pindah sekolah. Seperti terseleksi secara alam. Kemudian mereka diinformasikan pindah ke sekolah madrasah.
“Kalau mau enak, ya tidak bisa juga sekolah semuanya. Mereka anak-anak yang tak berminat sekolah di sekolah kami tetap harus kami terima karena mereka masuk kawasan zonasi SMAN 1 SU. Tapi akhirnya keluar juga,” ulasnya.
Hasbi berharap, hal ini bisa menjadi evaluasi pemerintah di pusat. Kemendigbud perlu melakukan kajian dan evaluasi agar bisa lebih baik dalam penerapan sekolah di semua daerah Indonesia, seperti di Sangatta ini. (adv)

