EKSPOSKALTIM.COM - Di saat problematika virus covid-19 tak kunjung reda menjadikan sebagian orang bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa diatasi seefektif mungkin. Karena, menyangkut kemashlahatan masyarakat. Virus covid-19 telah merambah ke seluruh penjuru global sebagai fenomena baru dan belum didapatkan penawar pasti. serta populasi global menjadi cukup menguras waktu untuk menanggulanginya.
Jumlah terpapar virus covid-19 terus meningkat dan belum bisa diprediksi kapan usainya. segala upaya dilakukan pemerintah supaya masyarakat menjauhi keramaian, selaku warga Negara mematuhi dan sebagian yang lain tidak mengindahkan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah.
Sepatutnya masyarakat dapat pelajaran dengan menjauhi penyebabnya, memperkuat usaha untuk kemaslahatan dalam masa pandemi virus covid-19. Masyarakat harus senantiasa menyikapi wabah ini dengan pola fikir berkemajuan, artinya tetap fleksibel dan mengkristalisasikan wawasan yang berkeadaban sehingga membuahkan sikap produktif dan efektif meski kondisi sosial- ekonomi dimasa pandemi covid-19 cukup terpuruk.
Tentu hal ini dikejewantahkan berdasarkan panduan keimanan kepada Sang Pencipta, seperti halnya Gerakan intelektual berdasarkan cakrawala mozaik tarekat-sufisme agar dapat memperdayakan fungsional pemuda bangsa. Yaitu Generasi bangsa adalah masa depan para pendiri bangsa untuk menopang cita- cita luhur masa depan bangsa. sehingga tidak menghabiskan waktu dengan ponsel serta teknologi digital dengan sia- sia.
Oleh karenanya, generasi ini harus mendapat pencerahan melalui media intelektual yang berdasarkan spiritual terapan agar memiliki daya imunitas kerohanian dan intelektual yang senantiasa bersintesa di dalam kerangka berkehidupan. Untuk menemukan nilai-nilai Universal-Idea yang tersimpan di balik fenomena virus covid-19 dari berbagai khazanah keislaman dan keilmuan medis untuk disosialisasikan kewilayah akar rumput.
Tujuan penulis membahas karya ilmiah berupa artikel ini menggunakan pendekatan normatif, berkenaan tentang persoalan yang sedang terjadi yaitu pandemi. Dari pembahasan di atas maka Penulis mengambil tema hikmah dari virus covid- 19 dalam perspektif moderasi Islam.
Pandemi adalah wabah atau penyakit yang menjangkiti banyak orang secara serempak diberbagai tempat, dalam ruang lingkup yang luas. Wujud dari realisasi makna pandemic tersebut, seperti yang terjadi pada dunia saat ini yaitu pandemic covid-19. Pandemi covid-19, saat ini merupakan istilah yang sangat familiar baik di masyarakat Indonesia maupun Dunia.
Karena penyakit yang menurut pakar kesehatan disebabkan oleh koronavirus type baru yang oleh para pakar kesehatan diberikan nama SARS-CoV-2 ini, sejak kemunculannya bermula di wilayah kota Wuhan, hingga saat ini ditahun 2021, masih belum reda-reda juga. Padahal WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) telah menetapkannya sebagai pandemi per tanggal 11 Maret 2020. Dari penetapan sebagai pandemi ini, banyak konsekuensi atau dampak yang timbul dari kebijakan organisasi kesehatan dunia tersebut. Baik disektor pendidikan, keagamaan, pariwisata, olahraga, sosial, terlebih dibidang ekonomi.
Dari sini penulis ingin menyikapi virus covid-19 dalam perspektif Moderasi Islam, sehingga perlu adanya berbagai khazanah keilmuan sebagai sumber referensi agar cara pandang yang dipakai tetap terkoordinasi oleh sistematika rasionalitas, ilmiah, filosofis, dan kontekstual. Walhasil, fakta sosial dari efek perspektif moderasi Islam dapat menjadi wahana baru untuk memecahkan problematika sosial- keagamaan dan kemasyarakatan karena dampak virus covid- 19 yang tidak menentu kapan berakhir.
Menjaga nilai-nilai kebersihan merupakan usaha yang cukup penting dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk pencegahan dasar penyebaran virus covid-19. Oleh sebab itu usaha tersebut sesuai dengan spirit hifdz al-nidzofah (menjaga kebersihan) yang merupakan bagian dari kerangka berfikir maqoshid al-syari’ah progresif (tujuan syari’at islam berkemajuan).
Ter-ilhami dari qaidah tersebut, penting terwujudnya kesehatan jiwa dan lingkungan dengan cara kesadaran menjaga kebersihan. Namun sebaliknya, bahwa situasi kotor adalah awal dari rusaknya kesehatan dan sebagai penyebab utama berbagai problematika sosial- medikal, dengan munculnya penyakit maka senantiasa akan mengakibatkan masalah kesehatan.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam penggalan hadis Baginda Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam yang artinya:
“Allah itu indah, Dia menyukai keindahan”. (HR. Imam at-thurmudzi: 2723).
hadis diatas dapat ditarik benang merahnya, bahwa menjaga kebersihan merupakan pangkal dari hidup sehat baik secara individual ataupun sosial. Sekaligus pangkal dari kebahagian, sedangkan kebahagiaan puncak dari ketentraman qolbu, dengan ketentraman qolbu maka akan terwujud sebuah kebahagiaan yang nyata. Untuk itu anak cucu adam selalu dimotivasi oleh spirit keislaman agar selalu menjaga kebersihan rohaniah yang kemudian tercermin melalui kesehatan lahiriyyah dan seterusnya, tentu diawali dengan menjaga kebersihan qolbu itu sendiri.
Adapun definisi tentang kesehatan, baik secara jasmani ataupun rohani sekaligus realitas yang melatar belakangi setiap insan untuk mengupayakan masa depan yang berkeadaban dalam dinamika kehidupan bermasyarakat. Sehat menurut word health organization (WHO) sehat adalah suatu keadaan kondisi jasmani dan rohani kemudian kesejahteraan sosial yang merupakan realisasi dari kesehatan itu sendiri. Oleh ketentuan itu dapat difahami bahwa sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang agar hidup selayaknya baik secara sosial sekaligus ekonomi.
Seseorang berpeluang untuk berprestasi, baik peluang untuk berfikir logis maupun berfikir yang tidak logis. Setiap seseorang terdapat domainasi untuk merawat diri, berbahagia, berfikir dan mengkristalisasikan fikirannya, bertumbuh kembang dan mengaktualisasikan pribadi.
Namun seseorang senantiasa mendominasi untuk merugikan diri sendiri, menjauhi berfikir untuk memperoleh pemantasan terhadap realitas, berlambat-lambat, menyesali kesalahan secara tidak berkesudahan dll. Oleh alasan tersebut penulis hendak mengurai dampak virus covid-19 perspektif moderasi beragama dengan memulai menjaga kebersihan dari individu setiap masyarakat mulai dari cuci tangan, kebersihan badan dengan mandi sehari dua kali, dan mengonsumsi makanan sehat sekaligus bergizi. minuman yang sehat, sehingga dorongan untuk menjaga kebersihan lingkungan dapat terlaksana berdasarkan kesadaran psikologis masyarakat yang dilatar belakangi oleh kehidupan yang sehat dan sejahtera baik secara lahir maupun bathin. Hal ini, merupakan ibadah dalam kategori dzikir fi’liyyah (pemaknaan mengingat Allah dalam kenyata...
Penulis : Djauhar rangga wijaya (Mahasiswa UINSI Samarinda)
(Artikel di atas menjadi tanggung jawab si penulis, bukan redaksi EKSPOSKaltim.com)

