PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Dari Kampung Maksiat ke Pusat Ibadah Tertua, Sejarah Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda

Home Berita Dari Kampung Maksiat Ke P ...

Masjid Shirathal Mustaqiem di Samarinda Seberang menyimpan jejak perubahan sosial. Dari kawasan perjudian dan sabung ayam pada abad ke-19 menjadi pusat ibadah yang bertahan lebih dari satu abad.


Dari Kampung Maksiat ke Pusat Ibadah Tertua, Sejarah Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda
Masjid Shirathal Mustaqiem telah berdiri lebih dari seabad di tanah yang dulunya adalah kampung maksiat di Samarinda. Foto Kaltimetam.id.

EKSPOSKALTIM, Samarinda - Di tepi Sungai Mahakam, berdiri sebuah bangunan yang bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga penanda perubahan wajah sosial masyarakat. Masjid Shirathal Mustaqiem menjadi saksi bagaimana sebuah kawasan di Samarinda bertransformasi dari ruang kemaksiatan menjadi pusat kegiatan keagamaan.

Kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Mesjid, Samarinda Seberang, pada pengujung abad ke-19 memiliki riwayat berbeda. Berdasarkan tutur yang hidup di masyarakat, wilayah ini dahulu identik dengan aktivitas seperti sabung ayam dan perjudian.

“Sabung ayam, perjudian, dan berbagai aktivitas yang jauh dari nilai agama menjadi kehidupan sehari-hari. Tempat ini dulunya dikenal sebagai kampung maksiat,” kata Mazbar, Ketua Kelompok Sadar Wisata Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda.

Perubahan kawasan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia berkaitan erat dengan kedatangan seorang ulama bernama Said Abdurachman bin Assegaf, tokoh keturunan Arab dari Kesultanan Pontianak.

Awalnya, Said Abdurachman datang ke wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura untuk berdagang. Samarinda Seberang saat itu hanya menjadi titik singgah dalam jalur perdagangan yang ramai dilalui kapal-kapal.

Namun, interaksi langsung dengan masyarakat setempat mengubah arah hidupnya. Ia melihat kondisi sosial yang menurutnya membutuhkan pembenahan, sekaligus potensi besar wilayah tersebut sebagai pusat penyebaran Islam.

“Niat berdagang perlahan berubah. Ia memilih menetap untuk mengembangkan syiar Islam di tengah masyarakat,” ujar Mazbar.

Pendekatan yang dilakukan tidak bersifat konfrontatif. Said Abdurachman menggunakan metode dakwah yang mengedepankan keteladanan, pendekatan sosial, dan penguatan nilai keagamaan. Perubahan berlangsung bertahap, aktivitas perjudian mulai ditinggalkan, dan masyarakat beralih mengikuti pengajian.

Pengaruhnya kemudian sampai ke penguasa Kutai saat itu, Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Pada 1880, Said Abdurachman diangkat sebagai Kepala Adat dan Agama di Samarinda Seberang serta diberi gelar Pangeran Bendahara.

Gelar tersebut memberinya legitimasi untuk memperluas aktivitas dakwah. Salah satu langkah penting yang kemudian diambil adalah membangun pusat ibadah sebagai fondasi perubahan sosial.

Masjid Shirathal Mustaqiem mulai dibangun pada 1881. Lokasinya dipilih secara simbolis, berdiri di atas lahan yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas perjudian. Pilihan ini menjadi penanda perubahan fungsi ruang dari aktivitas non-keagamaan menjadi tempat ibadah.

Seiring waktu, masjid ini berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Setelah wafatnya Pangeran Bendahara, pembangunan dan pemeliharaan dilanjutkan oleh tokoh lokal, termasuk Kapitan Jaya.

Lebih dari satu abad kemudian, masjid ini tetap berdiri di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang. Bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi salah satu masjid tertua di Kalimantan Timur.

Salah satu ciri khasnya adalah menara segi delapan setinggi sekitar 21 meter yang masih digunakan hingga kini. Dari menara tersebut, azan dikumandangkan, melanjutkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah sekaligus simbol perubahan sosial masyarakat.

Sejarah Masjid Shirathal Mustaqiem tidak hanya mencatat pembangunan fisik, tetapi juga transformasi nilai. Dari kawasan yang pernah dikenal dengan praktik perjudian dan sabung ayam, Samarinda Seberang berkembang menjadi lingkungan religius yang bertumpu pada aktivitas keagamaan.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :