EKSPOSKALTIM, Mahulu - Generasi penerus bangsa di wilayah perbatasan terancam Gagap Teknologi (Gaptek), lantaran minimnya fasilitas teknologi pada lembaga pendidikan formal di wilayah ini. Di SMAN 1Ujoh Bilang misalnya, penerapan pelajaran Ilmu Teknologi (IT) masih belum maksimal karena minim fasilitas.
Terkait hal tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Katarina Yayuk Samiasih mengatakan mata pelajaran TIK telah diterapkan sejak tahun 2007 di sekolah ini. Hanya saja, masih mengalami beberapa kendala.
"Kendalanya seperti kekurangan fasilitas sarana dan prasarana untuk menunjang pelajaran itu. Bukan hanya peralatan, kami juga tidak memiliki guru spesialis ilmu komputer disini ," ujar Katerina, saat ditemui di lapangan sekolah usai berolah raga, Kamis (17/11) pagi.
Kendati proses pelajaran TIK berlangsung apa adanya dan tidak memberi konstribusi signifikan terhadap siswa, namun ia bersama pihak sekolah telah mengupayakan agar pelajaran tersebut tetap berlangsung. Sehingga, siswa dan siswi tetap bisa mendapati ilmu teknologi sebagai bekal, walaupun masih belum maksimal.
"Dari tahun 2007 sebenarnya kami sudah memiliki sarana alat berupa komputer, hanya saja tidak ada pengajarnya, jadi percuma. Tapi kami terus berupaya agar pelajaran ini terus ada, meskipun tidak ada guru spesialis khusus TIK, kami akan tetap jalan. Syukur kami mendapat bantuan tenaga pengajar dari program SM3T dan Sanata Dharma, dan kami juga mendapat bantuan oleh Kementerian Pendidikan berupa unit komputer, yang saat ini total ada 10 unit di sekolah kami," paparnya.
Katerina menilai siswa dan siswi di sekolah ini miliki antusias serta semangat yang tinggi dalam mengikuti mata pelajaran TIK, khususnya teknologi dan elektronik. Sehingga atas usahanya, Katerina dan pihak sekolah pernah mengirimkan murid didiknya untuk mengikuti ajang olimpiade.
"Sangat antusias sekali siswa di bidang teknologi dan elektronik itu, apalagi pada saat pelajaran fisika. Pada saat praktek membongkar komponen-komponen, semangat sekali anak-anak, khususnya putra. Sedangkan putrinya lebih semangat di pelajaran TIKnya. Makanya melihat itu, kami pernah mengikutkan murid dalam olimpiade di tahun 2014 dan 2015, khusus mata pelajaran TIK," tandasnya.
Kendati demikian, Katatarina sangat menyayangkan semangat dan antusias siswa dan siswi dalam mengikuti pelajaran TIK tidak maksimal. Dengan terbatasnya segala fasilitas, juga akan membatasi kemampuan anak murid untuk menggali potensi diri.
"Makanya kami berharap dapat melengkapi fasilitas penunjang pelajaran tersebut. Misalnya jumlah unit komputer yang ditambah, dan tenaga pendidik yang betul-betul spesialis, sehingga antusias anak murid dapat tercurahkan dan menjadi ilmu yang bermanfaat,” pungkasnya.
“Kita disini juga sangat minim informasi, karena fasilitas Internet kita sangat minim, sehingga untuk mencari referensi dalam melakukan pengembangan juga terbatas. Itu juga menjadi harapan kami, agar jaringan internet ini dapat dimaksimalkan," tutupnya.

