Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup, semakin banyak masyarakat mengandalkan pekerjaan sampingan, namun penghasilan tambahan belum cukup tanpa pengelolaan keuangan yang tepat.
EKSPOSKALTIM, Balikpapan - Sebanyak 43 persen masyarakat Indonesia kini mengandalkan pekerjaan tambahan untuk menopang penghasilan utama di tengah meningkatnya kebutuhan hidup.
Data tersebut merujuk pada studi terbaru Prudential plc yang menunjukkan tren meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap sumber pendapatan di luar pekerjaan utama.
Fenomena ini tidak lepas dari prioritas ekonomi keluarga, di mana sebanyak 82 persen responden menempatkan keluarga sebagai fokus utama yang harus didukung secara finansial.
Namun, peningkatan penghasilan melalui pekerjaan sampingan dinilai belum cukup untuk menjamin kondisi keuangan yang stabil.
Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia Karin Zulkarnaen mengatakan penghasilan tambahan tetap harus diimbangi dengan perencanaan yang matang.
“Meskipun memiliki pemasukan ekstra bernilai sangat positif, kondisi keuangan seseorang tetap rentan apabila tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang,” ujarnya di Samarinda, Jumat (10/4).
Salah satu pendekatan yang disarankan adalah pembagian pengeluaran menggunakan formula 40-30-20-10, yakni 40 persen untuk kebutuhan harian, maksimal 30 persen untuk cicilan atau utang, 20 persen untuk tabungan atau investasi, serta 10 persen untuk donasi sosial.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk membangun jaring pengaman finansial, seperti dana darurat dan perlindungan asuransi, guna mengantisipasi risiko pengeluaran tak terduga.
Meski demikian, tingkat kesiapan finansial masyarakat dinilai masih terbatas. Berdasarkan Indeks Kesejahteraan Finansial yang melibatkan lebih dari 7.000 responden di Asia, hanya 45 persen yang merasa siap menghadapi risiko keuangan di masa depan.
Kondisi tersebut sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 66 persen.
Di sisi lain, survei menunjukkan 69 persen masyarakat telah rutin menabung setiap bulan dengan tujuan yang jelas.
Karin menilai peningkatan literasi menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya menabung, tetapi juga mampu mengelola dan mengembangkan keuangan secara berkelanjutan.
“Oleh karena itu, literasi keuangan perlu terus ditingkatkan agar masyarakat lebih siap dalam menghadapi tantangan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.
Sepanjang tahun lalu, lebih dari 390 ribu peserta telah mengikuti program edukasi literasi keuangan sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan keuangan. (ant)

