PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

Pembatasan Gawai di SMA Perlu Pendampingan, Bukan Larangan Total

Home Berita Pembatasan Gawai Di Sma P ...

Orang tua disarankan menetapkan waktu bebas ponsel, misalnya saat makan bersama atau menjelang tidur, serta membedakan durasi penggunaan gawai untuk keperluan sekolah dan hiburan.


Pembatasan Gawai di SMA Perlu Pendampingan, Bukan Larangan Total
Arsip foto - Sejumlah murid menggunakan gawai saat mengerjakan soal UASBN 2019 di SMA Negeri 9 Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (18/3/2019). SMA Negeri 9 Kota Bandung tersebut mulai menerapkan penggunaan teknologi smart router dalam pelaksanaan UASBN sehingga mempermudah siswa siswi dalam mengerjakan soal ujian berbasis komputer karena dapat diakses menggunakan gawai pribadi secara daring. ANTARA JABAR/Novrian Arbi/agr

EKSPOSKALTIM - Pembatasan penggunaan gawai di kalangan siswa SMA dinilai penting untuk membantu remaja membangun kebiasaan digital yang sehat, namun tidak boleh diterapkan secara kaku apalagi dalam bentuk larangan total. Pendekatan yang seimbang, kolaboratif, dan disertai pendampingan justru lebih efektif membentuk tanggung jawab anak dalam menggunakan teknologi.

Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog menegaskan remaja memang tampak mandiri, tetapi secara biologis perkembangan otak mereka masih membutuhkan arahan orang dewasa, khususnya dalam kemampuan mengatur diri, menahan impuls, dan mengambil keputusan yang matang.

“Yang dibutuhkan bukan larangan total, melainkan pendampingan dan pengaturan yang seimbang,” kata Virginia dikutip media ini dari antara, Kamis (5/2). 

Menurut dia, pelarangan penuh penggunaan ponsel justru berisiko menimbulkan dampak lain, seperti ketertinggalan informasi, kesulitan beradaptasi dalam pergaulan, hingga kurangnya keterampilan digital yang dibutuhkan di masa depan.

Virginia menekankan kunci pembatasan yang efektif terletak pada aturan yang masuk akal dan disusun secara kolaboratif antara orang tua dan anak. Orang tua disarankan menetapkan waktu bebas ponsel, misalnya saat makan bersama atau menjelang tidur, serta membedakan durasi penggunaan gawai untuk keperluan sekolah dan hiburan.

https://eksposkaltim.com/berita-16195-sekolah-batasi-ponsel-psikolog-ingatkan-jangan-pakai-cara-menghukum.html

Pelibatan anak dalam menyusun aturan, menurutnya, akan membuat remaja lebih kooperatif dan memahami alasan di balik pembatasan tersebut. “Pendekatan seperti ini membuat remaja lebih mau mematuhi aturan, dibandingkan aturan yang hanya datang sepihak tanpa penjelasan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar orang tua menjaga komunikasi yang terbuka dengan mengedepankan transparansi dan rasa saling menghargai. Orang tua perlu menjelaskan alasan logis setiap aturan, mendengarkan pendapat anak, serta membangun kepercayaan tanpa sikap terlalu mengontrol, seperti memeriksa ponsel anak tanpa izin.

Sejumlah penelitian, lanjut Virginia, menunjukkan bahwa pola asuh yang hangat namun tegas berperan besar dalam membentuk remaja yang lebih terbuka, sehat secara emosional, dan bertanggung jawab.

Di lingkungan sekolah, pembatasan penggunaan ponsel juga dinilai efektif meningkatkan fokus belajar dan interaksi sosial, asalkan diterapkan secara adil dan bukan sebagai bentuk hukuman. Misalnya, ponsel disimpan selama jam pelajaran namun tetap diizinkan digunakan saat istirahat untuk kebutuhan mendesak.

Sekolah pun perlu menyediakan aktivitas alternatif agar siswa tidak merasa bosan selama pembatasan diterapkan.

“Menciptakan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata akan membantu proses belajar sekaligus mendukung kesejahteraan emosional remaja,” kata Virginia.


Editor : Maulana

Apa Reaksi Anda ?

0%0%0%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :

Komentar Facebook

komentar