Sempat mendarat mulus dan kembali mengudara, pesawat pengangkut BBM itu justru terlihat terbang miring hanya dalam hitungan menit setelah lepas landas dari Long Bawan, Kalimantan Utara.
EKSPOSKALTIM, Samarinda - PT Pelita Air Service mengungkap sejumlah fakta baru terkait jatuhnya pesawat pengangkut BBM tipe Air Tractor AT-802 registrasi PK-PAA di wilayah Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Kamis (19/2). Pesawat yang tengah menjalankan misi distribusi program BBM Satu Harga itu sempat mendarat normal sebelum akhirnya jatuh beberapa menit setelah kembali lepas landas. Satu-satunya awak, Kapten Hendrick Lodewyck Adam, meninggal dunia.
Corporate Secretary Pelita Air Service, Patria Rhamadonna, menjelaskan pesawat lebih dulu terbang dari Bandara Juwata Tarakan menuju Bandara Long Bawan dengan membawa muatan BBM. Pesawat lepas landas pukul 10.22 WITA dan mendarat dengan aman di Long Bawan pada pukul 11.24 WITA.
Setelah proses pembongkaran muatan selesai, pesawat bersiap kembali ke Tarakan dalam kondisi tanpa muatan. Pada pukul 12.10 WITA, pesawat dengan nomor penerbangan PAS 7107 lepas landas dari runway 22.
Saat keberangkatan, cuaca dilaporkan hujan ringan dengan jarak pandang sekitar 6 kilometer. Awan rendah terpantau pada ketinggian 1.400 kaki dengan suhu 23,9 derajat Celsius. Namun, beberapa menit setelah lepas landas, saksi mata melihat pesawat menurun dalam posisi miring ke arah perbukitan di ujung runway 22.
Sekitar pukul 12.25 WITA, warga di sekitar Bandara Yuvai Semaring, Krayan, kembali melihat pesawat dalam posisi miring menurun ke balik bukit di ujung pendekatan runway. Kondisi cuaca dilaporkan semakin memburuk.
AirNav Long Bawan segera berkoordinasi dengan pihak bandara. Pada pukul 12.27 WITA, pilot Susi Air yang hendak memasuki wilayah Krayan memutuskan kembali ke Malinau karena cuaca buruk. Pilot tersebut juga menerima sinyal Emergency Locator Transmitter (ELT) dengan radius sekitar 5 kilometer dari arah final runway 22.
Informasi awal mengenai dugaan jatuhnya pesawat diterima kantor pusat Pelita Air di Jakarta pada pukul 12.30 WITA. Perusahaan langsung berkoordinasi dengan Lanud Tarakan, Basarnas, dan masyarakat setempat untuk memastikan kondisi pesawat dan pilot.
Pesawat ditemukan dalam kondisi hancur di wilayah perbukitan pada pukul 13.25 WITA setelah pencarian intensif dilakukan tim gabungan bersama warga. Kapten Hendrick ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan dievakuasi pada pukul 14.33 WITA. Jenazah kemudian dibawa ke RS Pratama Long Bawan dan tiba pukul 15.20 WITA.
Komandan Lanud Anang Busra, Marsma TNI Andreas A. Dhewo, menyatakan pesawat diawaki satu orang pilot dan dari hasil evakuasi di lokasi, korban dinyatakan meninggal dunia. Untuk sementara, penerbangan menuju Krayan dihentikan karena kondisi cuaca tidak memungkinkan.
Pelita Air memastikan pesawat Air Tractor AT-802 produksi 2013 tersebut dalam kondisi laik terbang dan telah menjalani perawatan rutin terakhir pada 15 Februari 2026. Kapten Hendrick, 54 tahun, bergabung dengan Pelita Air sejak Juli 2021 dan memiliki pengalaman terbang lebih dari 8.000 jam.
Dugaan awal mengarah pada faktor cuaca buruk yang terjadi di wilayah tersebut. Namun, Pelita Air bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan mengirim tim investigasi untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan.
Manajemen Pelita Air menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya pilot yang bertugas dan memastikan seluruh hak serta santunan kepada keluarga korban akan dipenuhi. Perusahaan juga menegaskan komitmen untuk menjaga keselamatan operasional serta mendukung proses investigasi secara transparan dan menyeluruh.

