EKSPOSKALTIM, Samarinda - Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, dimaknai bukan sekadar pergantian tahun, tetapi sebagai momentum mempererat ikatan keluarga yang disimbolkan lewat sajian khas kue keranjang dan tradisi silaturahim lintas generasi.
Di tengah suasana perayaan Imlek, aroma manis kue keranjang menjadi penanda yang hampir selalu hadir di setiap rumah warga keturunan Tionghoa di Kota Tepian. Bagi mereka, kudapan tersebut bukan sekadar makanan, melainkan simbol kelekatan keluarga.
"Kudapan wajib saat Imlek adalah kue keranjang yang melambangkan kelekatan tali persaudaraan antar-anggota keluarga," ujar Fransisca Wijaya (30), warga keturunan Tionghoa asli Samarinda, dikutip dari antara, Rabu (18/2).
Ia menjelaskan tekstur kue yang lengket menyerupai dodol dengan rasa manis itu menyimpan makna agar hubungan keluarga tetap akur dan tidak mudah terpisahkan. Meja makan saat Imlek, menurutnya, juga diisi aneka penganan khas seperti lapis legit, nastar, serta sajian teh China untuk menjamu tamu.
Bagi Fransisca, momen paling dirindukan adalah masakan sang ibu yang hanya hadir setahun sekali saat Imlek. Sajian itu, katanya, selalu menghadirkan kenangan yang tidak tergantikan.
Tradisi lain yang tak terlewatkan adalah mengenakan pakaian baru berwarna terang, terutama merah, serta menghindari warna gelap sebagai simbol harapan masa depan yang cerah. Prosesi silaturahim pun dilakukan secara tertib, dimulai dari anggota keluarga tertua hingga yang paling muda, menyerupai tradisi Lebaran pada umat Muslim.
Namun, Fransisca mengakui suasana kelenteng kini terasa lebih sepi dibandingkan masa kecilnya. Ritual pembakaran hio, katanya, saat ini hanya diperbolehkan di area luar bangunan.
Suasana khidmat tetap terasa di salah satu kelenteng di Samarinda saat Sui Ye Cin (82) menjalankan ibadah tahunan.
"Tradisi minta doa di klenteng ini sudah saya lakukan sejak kecil untuk memohon berkah kepada Tuhan dan leluhur," kata Sui Ye Cin.
Ia meyakini para dewa yang dipuja di kelenteng senantiasa memberikan perlindungan dan bantuan dalam kehidupan umatnya.
Kebahagiaan juga terpancar dari generasi muda. Jennifer (20) menyebut Imlek sebagai waktu paling favorit sepanjang tahun.
"Kami biasa berkumpul kerabat yang lama tak bersua, terus makan-makan sama keluarga, bisa ketemu om-tante, sepupu, dan kakek-nenek, pokoknya seru," tuturnya.
Ia pun tidak membatasi tamu hanya dari kalangan etnis Tionghoa, melainkan turut mengundang teman dari berbagai latar belakang untuk berbagi kebersamaan dalam perayaan tersebut.

