EKSPOSKALTIM.COM - Kesehatan mental merupakan suatu kondisi di mana seseorang memiliki kondisi jiwa yang stabil. Dengan kata lain, kesehatan mental juga berarti suatu tingkatan psikologis, yang mana seseorang memiliki ketenangan dan kenyamanan dalam jiwanya. Mengutip buku “Psikologi Agama” karya Jalaluddin, bahwa kesehatan mental merupakan suatu ihwal jiwa yang mana dalam keadaan tenang, aman dan tenteram. Usaha untuk menemukan kedamaian jiwa di antaranya melakukan adaptasi diri secara tawakkal kepada Allah. Sedangkan menurut Zakiah Derajad pada bukunya yang berjudul “Kesehatan Mental Menurut Zakiah Derajad”, kesehatan mental adalah terbentuknya keselarasan antara peranan kejiwaan dengan terbentuknya adaptasi diri sendiri pada manusia dan lingkungan, yang berdasarkan iman dan taqwa, bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna bahagia dunia dan akhirat.
Kesehatan mental berdampak kepada kestabilan hidup seseorang. Jika mental seseorang terganggu akan mengakibatkan terhambatnya produktivitas seseorang baik dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Sebaliknya, jika kesehatan mental seseorang stabil atau tidak terganggu, akan memberikan kelancaran menjalani kehidupannya. Sehingga, menjaga kesehatan mental sangat diperlukan terutama pada masa Pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.
Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang yang mengalami stress akibat dampak dari Pandemi Covid-19, di mana masih ada orang yang belum bisa beradaptasi dengan kondisi Pandemi ini (New Normal). Misalnya, para pekerja tidak tetap (serabutan) yang kehilangan pekerjaanya dikarenakan adanya kebijakan pemerintah dalam pembatasan baik fisik maupun sosial di daerah tempat tinggalnya, para pelajar mulai tingkatan PAUD hingga Perguruan Tinggi menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) melalui online (dalam jaringan) serta para pegawai yang bekerja Work From Home (WFH) bahkan beberapa di antaranya ada yang diputus hubungan kerja (PHK) akibat dari Pandemi Covid-19.
Dalam ajaran Islam, seorang muslim diwajibkan untuk beriman kepada Allah SWT. Yakni percaya dan meyakini keesaaan dan kuasa Allah SWT. Bahwa Allah-lah yang Maha Mengatur segala urusan manusia di dunia ini, termasuk hati dan fikiran manusia. Seorang muslim hendaknya selalu berbaik sangka kepada Allah SWT (husnudzon). Dengan berhusnudzon kepada-Nya, seorang muslim diharapkan bisa merasa tenang dan aman karena percaya dan yakin bahwa semua yang terjadi atas kehendak-Nya pasti ada kebaikan di dalamnya.
Allah SWT berfirman dalam surah Ar-Ra’du ayat 28 yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang disebabkan karena mengingat Allah. Sungguh dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” Maksud dari ayat tersebut adalah hendaknya seorang muslim dalam kondisi apapun selalu terus mengingat Allah SWT. Karena dengan mengingat-Nya jiwa akan menjadi tenang.
Menjaga kesehatan mental secara islami bukan berarti hanya pada kepasrahan bertawakkal kepada Allah SWT. Melainkan seorang muslim juga dituntut untuk melakukan usaha konkret (ikhtiar) yang memadai dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan protokol kesehatan pada masa Pandemi Covid-19. Seperti, membudayakan mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, menjaga jarak (physical distancing), mengonsumsi bahan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta meningkatkan keseimbangan mental/rohani agar tidak stress. Untuk itu, pada masa Pandemi Covid-19, selain seorang muslim harus tetap husnudzon kepada-Nya, seorang muslim juga diharapkan untuk selalu mengikuti protokol kesehatan yang telah diupayakan pemerintah agar terciptanya kehidupan yang tentram dalam beradaptasi dengan kebiasaan baru Pandemi Covid-19 (New Normal).
Apapun yang terjadi pada masa Pandemi Covid-19 ini entah kesulitan dalam bekerja, kesulitan dalam menuntut ilmu bahkan gangguan mental yang dialami, semua itu pasti ada hikmah serta kebaikan di dalamnya. Yakini dalam diri bahwa Allah SWT pasti akan memberikan ganti atau balasan yang lebih baik setelahnya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan bahkan yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (H.R Bukhari dan Muslim). Dari hadis tersebut bahwasanya setiap musibah yang diberikan apabila seorang muslim mampu bersabar, maka Allah akan menghapus dosanya.
Maka dari itu, cara yang dapat dilakukan dalam menjaga kesehatan mental pada masa Pandemi Covid-19 menurut pandangan agama Islam adalah selalu berhusnudzon kepada Allah SWT. Percaya dan yakin atas ketetapan-Nya bahwa segala peristiwa yang terjadi adalah rencana Allah SWT yang mana memiliki banyak hikmah di dalamnya. Dan juga, diharapkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara memperbanyak ibadah semata-mata untuk mendapatkan ridho-Nya.
Penulis : Sri Maya Nurnaningsih (Mahasiswa UINSI Samarinda)
(Artikel di atas menjadi tanggung jawab si penulis, bukan redaksi EKSPOSKALTIM.COM)

