PORTAL BERITA ONLINE NEWS AND ENTERTAINTMENT ONLINE BERANI BEDA..!! MENGEKSPOS KALIMANTAN & TIMUR INDONESIA

OPINI : Moderasi Beragama di Ruang Digital

Home Berita Opini : Moderasi Beragama ...

OPINI : Moderasi Beragama di Ruang Digital
Khairunnisa (Mahasiswa UINSI Samarinda)

EKSPOSKALTIM.COM - Seperti yang kita ketahui bersama Indonesia yang memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu dan dengan jumlah penduduk yang bermayoritaskan Islam disini kita bangsa Indonesia harus menjalankan kerukunan beragama satu sama lain dan tetap hidup berdampingan hingga saat ini dengan saling menghargai satu sama lain agar menjadi bangsa yang bersatu padu sesuai dengan semboyan yang ada dan tertuang di dalam pancasila sila ke-1 yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang artinya bahwa kita harus menjalankan ibadah kepada tuhan kita baik itu yang beragamakan Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu dan lain-lain. Sampai saat ini kita masih terus hidup berdampingan dengan menjalankan ibadah masing-masing dan menghormati ibadah agama yang lain. Adanya kerukunan seperti ini membuat Negara lain merasa iri dengan kita yang mampu menjaga keutuhan dan kerukunan beragama sehingga tidak ada orang yang bisa memecah belah kerukunan dan keberagamaan kita sekarang.

Moderasi beragama yang saat ini sedang terjadi pun lebih banyak melalui media sosial sebagai sarana, karena keadaan Indonesia yang belum pulih sepenuhnya dari pandemi Covid-19 yang akhirnya membuat indonesia lebih banyak menggunakan media sosial sebagai alat untuk mengungkapkan pemikiran dan pandangan terhadap agama melalui tulisan media sosial mereka. Dengan canggihnya teknologi zaman sekarang banyak hal-hal yang bisa kita lihat di media sosial, entah itu Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan lain sebagainya, adanya kejadian tumpah darah yang mengakibatkan runtuhnya rasa simpati kita terhadap kerukunan beragama. Tontonan yang hanya kita lihat sekilas tanpa kita selidiki kepastiannya bisa saja merubah diri kita untuk terjerumus kedalam hal yang salah, dan kita menjadi seseorang yang fanatic didalamnya. Moderasi beragama di era digital merupakan sebuah wadah yang bisa saja apabila seseorang salah memahami tentang sesuatu maka akan menjadi fanatisme terhadap sesuatu dan mengganggap sesuatu yang lain itu buruk dan tidak baik. Tetapi sebaliknya jika seseorang terebut memiliki pengetahuan yang baik dan mampu mencari tahu kebenaran akan sesuatu maka akan menjadi paham tentang memahami dan menghargai agama yang ada tanpa harus memandang sesuatu yang lain itu buruk atau salah. Sehingga dengan adanya moderasi beragama di era digital ini kita harus bisa memilah dan memilih sesuatu dengan sebaik baiknya agar tidak terjadi kesalahpahaman antara yang satu dan yang lainnya maka dari itu dibutuhkannya pengetahuan yang dalam guna memfasilitasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Moderasi beragama dalam ruang digital merupakan bentuk dari kesadaran pemuka agama, karena sering terjadi isu-isu keagamaan di media sosial yang beredar luas dengan liar, kepercayaan terhadap nilai moderasi dan kebersamaan kemudian lenyap begitu saja dimakan oleh narasi keagamaanyang sepihak dan menonjolkan fanatisme kebenaran. Di era yang semakin canggih, masyarakat ingin mendapatkan ilmu keagamaan yang instan dan pragmatis, sanad keilmuan tidak lagi menjadi kunci dari proses belajar. Bisa dibilang siapa yang cepat dalam menyajikan narasi keagamaan, maka dia akan memperoleh jamaah dengan mudah. Karena itu para pemuka agama yang sering berada di majelis dll. Kemudian agar bisa menyebarluaskan ajarannya melalui digital, hal itu bisa menjadi kontra dari suara-suara sumbang teks keagamaan, dan juga dapat menjadi suara penyeimbang, bahkan menjadi suara dominan untuk menggeser pemahaman keagamaan yang bersifat tunggal dan kaku.

Quotes Almarhum Gusdur mengungkapkan “Tidak penting apapun agama dan sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik orang tidak akan pernah tanya apa agamamu”. Tetapi sangat berbanding terbalik dalam kehidupan sekarang dimana agama akan semakin menonjol jika perbuatan yang kita lakukan salah dimata orang lain. Di dalam komentar media sosial nantinya akan sangat jelas mengungkapkan “mbaknya agamanya apa kok gak pake jilbab”, “masnya agamanya apa kok wakunya Shalat Jum’at posting jalan-jalan”. Hal ini merupakan bukan sikap dari toleransi dimana merasa agamanya yang paling benar sehingga perbuatan orang lain dianggapnya salah besar. Toleransi agama yang bisa kita lakukan yang biasa kita lihat dengan tidak mengomentari agama orang.

Moderasi Islam ini dapat menjawab berbagai problematika dalam keagamaan dan peradaban global. Seorang muslim moderat akan mampu menjawab lantang dan dengan tindakan perdamaian kepada kelompok berbasis radikal, ekstrimis dan puritan yang melakukan segala halnya dengan tindakan kekerasan.Peningkatan penggunaan internet serta kemajuan teknologi informasi menyebabkan perubahan terhadap cara berdakwah, kemudahan untuk menemui jaringan internet merupakan suatu kelebihan yang dapat menjadikan internet sebagai media atau sebuah sarana alternatif dalam berdakwah. Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia bahwasanya Kementerian Agama akan memperbanyak penyuluhan melalui media sosial guna penyebaran nilai-nilai keagamaan yang moderat. Ini untuk melengkapi penyuluhan-penyuluhan keagamaan yang selama ini telah dilakukan dalam rangka mencegah radikalisme, bahkan terorisme di Indonesia.

Di era digital saat ini, hampir semua manusia menggunakan media sosial sebagai sarana komunikasi yang mudah untuk digunakan. Hanya dengan memanfaatkan jaringan internet, mereka dapat berinteraksi dengan sangat mudah dan cepat meski tidak sedang bertatap muka. Inilah yang dimanfaatkan oleh para pendakwah Islam, mereka tidak harus berdakwah pada lingkup majelis ta’lim yang berisikan ceramah, tausyiah dan nasihat tentang ilmu keagaamn seperti syari’at islam, tauhid, dan lain sebagaiannya. Kelebihan fasilitas yang disediakan oleh media sosial menjadi kelebihan tersendiri bagi masyarakat virtual khususnya bagi para juru dakwah dan para da’i dalam menyampaikan atau membagikan informasi tentang dakwah islam tanpa harus secara langsung bertemu dengan mereka.

Salah satunya dengan media sosial facebook, media sosial ini sangat efektif digunakan untuk menyampaikan pesan dakwah, di karenakan banyaknya pengguna aplikasi media sosial tersebut. Facebook sesuai dengan namanya adalah “buku muka”, sebuah “buku” yang memuat banyak “muka” para penggunanya dalam foto, gambar, maupun ilustrasi. Facebook merupakan situs jejaring terbesar di dunia saat ini yang menyediakan berbagai aplikasi yang memudahkan pengguna untuk saling berhubungan kepada pengguna facebook yang lain. Di Indonesia pernah ada sekitar 65 juta pengguna facebook yang aktif, hal itu membuktikan bahwa media sosial facebook merupakan situs jejaring sosial yang paling favorit dikunjungi dibandingkan dengan situs jejaring sosial yang lain. Hal ini disebabkan pada media sosial facebook memiliki navigasi yang cukup mudah untuk digunakan oleh penggunanya. Dengan meilhat perkembangan penggunaan facebook yang ada saat ini, berdakwah melalui sarana tersebut akan sangat efektif. Efektivitas facebook ini dapat dilihat dari bagaimana facebook dapat menyebar luas di masyarakat. Pemanfaatan media dalam berbagai kegiatan dakwah memungkinkan komunikasi antar da’i dengan mad/u menjadi lebih dekat.

Penulis : Khairunnisa (Mahasiswa UINSI Samarinda)

(Artikel di atas menjadi tanggung jawab si penulis, bukan redaksi EKSPOSKaltim.com)

 


Editor : Abdullah
Tags : \\

Apa Reaksi Anda ?

0%0%100%0%0%0%0%0%
Sebelumnya :
Berikutnya :