EKSPOSKALTIM– Media sosial di kekinian sepertinya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berkelompok, baik komunitas maupun antar personal (person to person). Melalui pemberitaan di media sosial, kita dapat saling bahu membahu menolong seseorang yang mungkin dalam kesusahan. Tetapi, melalui media sosial pula seseorang dapat di-bully habis-habisan.
Di luar itu, media sosial juga dapat mengocok perut. Paling tidak, itu dapat dilihat dari fenomena Mukidi yang sempat jadi viral belum lama ini lantaran kelucuannya. Serupa Mukidi, beberapa hari ini di media sosial dihebohkan kelucuan “Surat Sakit Rahing”.
Surat sakit Rahing awalnya pesan berantai sebuah foto di grup chat instant messenger. Foto yang menggambarkan surat pemberitahuan dari orang tua siswa kepada gurunya. Dalam surat tersebut, diberitahukan jika siswa bernama Rahing sedang sakit.
Sayangnya, dalam surat itu tidak disebutkan asal sekolahnya. Cuma tertulis nama daerah tempat tinggal orang tuanya, Bontonompo. Bila merujuk nama daerah, Bontonompo adalah nama sebuah kecamatan di Gowa, Sulsel. Mayoritas penduduk Bontonompo suku Makassar.
Bahasa digunakan orang tua Rahing dalam surat itu berlogat Makassar. Bila diperhatikan saksama, penggunaan bahasa Indonesia baku yang ditulis orang tua Rahing diimbuhi salah tulis. Dalam bahasa gaul versi Makassar, kejadian salah tulis atau salah ucap dengan berlebihan huruf atau mengurangi huruf tertentu dapat dikatakan “okkots”.
Meskipun dipenuhi okkots, tetapi orang tua Rahing menulisnya dengan santun dan sedikit puitis. Surat-surat berisi tulisan tangan seseorang yang mengaku orang tua Rahing berbunyi begini:
Kepada Yth
Bapak/Ibu Guruna Rahing
di- Tempa’/Sekolah
Assalamu Alaikun Wr. Wb,
Alangkah indahnya pagi ini, matahari bersinar dengang terang. Burun-burun pung bernyanyi dang senan. Bunga-bunga di tamang semerbak mewangi dang bermekarang. Tapi ibara’ bunga ada satu yan layu, yaitu Rahing. Hari ini dia tida’ bisa masu’ sekolah ka sakitki kasiang.
Sekiang dan Terima kasih
Bontonompo’, 7 September 2016.
Oran tuana Rahing
Surat dari orang tua Rahing ini pun mendapat balasan dari sang guru yang tak kala lucunya menggunakan logat Makassar. Berikut kutipannya :
Kepada Yth
ORang Tuana Rahing
di- Tempa’/ Rumah
Assalamualaikun Wr. Wb.
Surat Bapak sudah saya terima. Alangkah kagekna saya saat mengetahui Rahing sedang saki'. Bagaikang petir di sian Bolom. Hatiku gundah Gulana membaca suratta'. Tak terbayangkang Perihna hatiku.
Semoga Rahing cepa' sembuh. Kelas sepi tanpa suara kakkara'na Rahing. Temang-temangna juga kuram bersemanga' belajar tanpa kehadiranna Rahing.
Sekolahna Rahing, 8 Sept. 2016
Guruna Rahing.
Saat surat ini sedang viral, belum terungkap siapa sosok Rahing yang sebenarnya. Kalau dipertanyakan, benarkah masih ada orang tua peserta anak didik masih mengirim surat “tradisional” kepada guru, mengingat semua orang memiliki smartphone. Paling tidak, kemajuan teknologi internet sudah melumrahkan setiap orang untuk berkirim email, tidak terkecuali kepada guru.
Dalam pergaulan di kalangan muda di Sulsel, tanpa bermaksud menyudutkan seseorang yang kebetulan memiliki nama ini, kata “Rahing” kerap digunakan sebagai kata ganti untuk orang lugu, telat mikir, kampungan, “ndeso”, dan sebagainya.
Jika ditelusuri lebih dalam, kemungkinan besar Rahing adalah tokoh fiksi seperti Mukidi yang sedang fenomenal. Surat orang tua Rahing menjadi viral selang sekitar sepekan pasca kisah humor Mukidi tengah viral.
Jika penulis kisah humor Mukidi terungkap, yakni Soetantyo Moechlas, lain halnya dengan penulis surat orang tua Rahing yang masih menjadi misteri.

