Batulicin, EKSPOSKALTIM – Mark Werren, warga negara asing yang menjabat sebagai Direktur Senior Fiber di APRIL Group, menjadi salah satu korban kecelakaan helikopter BK117-D3 milik Eastindo Air di Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Senin (1/9).
Berdasarkan profil resmi perusahaan, Werren telah berkecimpung di sektor kehutanan sejak 1980-an. Ia berpengalaman panjang di negara tropis seperti Tanzania, Vietnam, Indonesia, hingga Australia, Finlandia, dan Skotlandia. Werren menyelesaikan pendidikan BSc (Hons) Forestry di University of Aberdeen, Inggris, dan MSc Forestry di University of Helsinki, Finlandia.
Sejak 1988, Werren tercatat aktif dalam pengembangan hutan tanaman industri pulpwood di Indonesia. Ia berperan dalam manajemen pembibitan modern, transfer teknologi perkebunan, hingga riset dan audit operasional.
Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin mengonfirmasi bahwa helikopter tersebut disewa APRIL Group untuk kegiatan pengukuran lahan di wilayah perbatasan Kalsel–Kaltim. Muhidin menegaskan penerbangan itu murni untuk kepentingan profesional, bukan terkait investasi sawit.
Kecelakaan tragis ini menewaskan delapan orang, terdiri dari pilot Kapten Haryanto, teknisi Hendra, serta enam penumpang, termasuk Werren. Seluruh korban telah dievakuasi. Tim DVI Polda Kalsel masih melakukan proses identifikasi karena sebagian jasad ditemukan dalam kondisi tidak utuh.
Pesan Terakhir
Tragedi jatuhnya helikopter BK117 D3 di hutan Desa Emil Baru, Mentewe, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, memang menyisakan kisah pilu. Satu dari delapan korban sempat mengirim pesan singkat terakhir kepada keluarganya sebelum meninggal.
Gubernur Kalsel Muhidin menyebut pesan itu menjadi petunjuk penting bagi Tim SAR. “Tertangkap sinyal dari telepon seluler salah satu korban yang mengirim pesan singkat ke keluarga. Pesannya berbunyi, ‘Saya dalam keadaan kritis’,” kata Muhidin saat konferensi pers di RS Bhayangkara Banjarmasin, Jumat (5/9).
Pesan singkat itu mengirim sinyal lokasi. Dari koordinat tersebut, pencarian yang sempat buntu sejak Selasa (2/9) kembali digerakkan. Tim SAR lantas menyusuri arah Paramasan, Kabupaten Banjar, hingga menemukan bangkai helikopter di hutan Emil Baru pada Rabu (3/9) pukul 14.45 WITA. Lokasi itu berjarak sekitar 700 meter dari titik koordinat yang sebelumnya diberikan KNKT.
Keterangan warga turut memperkuat petunjuk. Mereka melihat heli terbang rendah sambil mengeluarkan asap sebelum meledak di kawasan hutan yang tak jauh dari titik sinyal. “Berkat kerja keras Tim SAR dan bantuan warga, jasad para korban segera ditemukan,” ujar Muhidin.
Evakuasi delapan jenazah berlangsung dramatis. OSC mengerahkan seluruh unit darat hingga seluruh korban berhasil dievakuasi Kamis (4/9) malam pukul 21.50 WITA.
Selain jasad korban, Tim SAR juga menemukan kotak hitam helikopter. Meski terbakar, komponen inti perekam data masih utuh. “KNKT menyatakan 99 persen masih bisa dibaca,” ucap Yudhi. Black box itu sudah diserahkan ke KNKT untuk mengungkap penyebab jatuhnya heli milik PT Eastindo Air tersebut.

