EKSPOSKALTIM, Bontang - Sebanyak tiga daerah di kawasan pelosok Kota Bontang sampai saat ini mengalami kondisi kekurangan atau defisit air bersih. Mencakup wilayah kampung Melahing, Tihi-Tihi, dan Selangan, Kelurahan Tanjung Laut, Bontang Selatan.
Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Taman Bontang Suramin membenarkan kondisi di tiga wilayah tersebut mengalami permasalahan yang sama mengingat letak geografis wilayah tersebut juga sama.
“Untuk daerah terpelosok ini masalahnya sama, harga dan kebutuhan transportasi yang tinggi. Yang paling prioritas saat ini adalah jumlah kebutuhan lebih besar dari volume tampungan air,” kata Suramin, Kamis (13/4) siang.
Mengatasi permasalahan itu Suramin mengaku, upaya jangka pendek akan segera dilakukan dalam waktu dekat, mengingat permasalahan tersebut termasuk dalam kategori permasalah mendesak. “Kalau bisa sebelum bulan depan, saya akan koordinasikan dulu bersama Lurah, RT, dan perwakilan warga terkait kesepatan,” pungkasnya, Kamis (13/4) pagi.
Jika pemakaian air bersih dalam satu Kartu Keluarga (KK) bisa mencapai 1 kubik Rp 30 ribu/hari, maka dalam satu bulan dapat mencapai Rp 360 ribu per KK. Artinya pemakaian air bersih setiap KK per hari mencapai 12 kubik.
“Kami belum bisa kalkulasikan kebutuhan seluruh KK dari tiga wilayah tersebut, kalau tampungan air yang kami sediakan di wilayah tanjung laut, kapasitasnya mencapai 10 kubik dan setelah habis kami isi kembali,” paparnya.
Terkait persoalan harga air bersih yang masih dianggap tinggi oleh masyarakat, sebisa mungkin kebijakan yang diberikan PDAM terkait harga akan menyesuaikan permintaan. “Kalau harga sekarang Rp 10 ribu dapat 20 liter air bersih (jeriken) itu masih tinggi, nanti kita coba koordinasikan kalau bisa capai Rp 500 ribu per 20 liter (Jeriken),” tandasnya.

