EKSPOSKALTIM, Samarinda - Pesisir Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, terletak di ujung paling timur Pulau Sumatra. Pesisir yang memiliki garis pantai sepanjang 295 km ini dipagari oleh hutan mangrove sepanjang 150 km, yang turut berkontribusi pada melimpahnya hasil laut di OKI.
Kehidupan di pesisir OKI dikenal keras. Tak ada jalan yang menghubungkan pesisir dengan ibu kota kabupaten maupun provinsi, tak ada listrik dari PLN, tak ada air bersih dari PDAM.
Tak banyak pilihan sumber penghidupan di kawasan terpencil ini. Umumnya masyarakat pesisir OKI menggantungkan hidupnya sebagai nelayan atau petambak. Para petambak mulai membuka tambak sejak 1990-an. Awalnya tambak udang windu saja. Masuk ke tahun 2000-an, mereka mulai membudidaya bandeng di tambaknya.
Bagai pasang-surut di pesisir, begitu juga dengan kehidupan para petambak OKI. Naik-turun hasil panen sudah menjadi hal yang biasa. Belakangan, perubahan iklim yang semakin tak menentu membuat panen semakin merosot.
Harapan dari Ketiadaan
Sekilas tidak mudah. Tapi dari berbagai ketiadaan sarana dasar itu, ada harapan. Sri Ngatoyah dari Desa Simpang Tiga Abadi, memimpin kelompok usaha Bintang Ratu yang sebagian besar beranggotakan ibu-ibu istri petambak, untuk turut berdaya. Mereka menolak bahwa perempuan hanya bertugas di dapur, sumur, dan kasur saja.
Kelompok yang didirikan sejak 2019 ini beranggotakan sepuluh orang. Produk pertama yang dihasilkan adalah bandeng presto, mengandalkan bandeng dari kolam-kolam tambak para suami.
“Bandeng dari tambak pesisir OKI dikenal karena kualitasnya yang top. Tambak air payau ini menghasilkan ikan yang gurih dan tidak amis. Tak heran, kapal-kapal ikan dari Jakarta jauh-jauh menjemput hasil tambak di daerah terpencil ini,” ujar Sri.
Demikian juga bandeng presto Bintang Ratu yang kualitasnya diakui hingga ke Palembang. Namun jarak menjadi persoalan, karena tak ada kulkas dan pengiriman yang jauh dari pesisir OKI ke Palembang, dengan jarak sekitar 200 km, hanya setengah saja produknya yang layak dijual, sisanya hancur. Sri tak menyerah, “Walau tak ada untung, Bintang Ratu tetap mau bertumbuh.”
Pada 2021, lembaga konservasi alam nasional, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), membuka lokasi kerja di pesisir OKI. Selain konservasi mangrove, salah satu fokusnya adalah pemberdayaan kelompok perempuan. Kesempatan ini pun diambil oleh Bintang Ratu untuk belajar kembali.
Setelah mendalami tantangan yang dihadapi Bintang Ratu, YKAN memperkenalkan produk baru yang dapat disimpan lama dan tak mudah hancur, yaitu kukis dari buah nipah (spesies mangrove) dan abon bandeng.
“Sejak zaman nenek moyang, kami tidak pernah tau manfaat buah nipah. Ternyata buah nipah dapat diolah menjadi tepung yang kemudian dapat dibuat menjadi kukis,” terang Sri.
Terus Bertumbuh
Tak hanya di pesisir OKI, YKAN juga memiliki lokasi kerja di pesisir lainnya, salah satunya di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ada sejumlah kesamaan dari dua lokasi tersebut, yaitu sama-sama berada di ujung paling timur di pulaunya, permukimannya sama-sama dikelilingi ekosistem hutan mangrove, dan yang utama, kelompok usaha perempuannya sama-sama berdaya membuat produk olahan dari bahan yang tersedia di lingkungannya.
Baik kelompok perempuan dari OKI maupun Berau, keduanya sama-sama memiliki produk olahan yang unik. Oleh karena itu, YKAN merancang studi banding agar keduanya memiliki kesempatan untuk saling belajar dan bertukar ilmu. Banyaknya kemiripan dari pengalaman dan latar belakang diharapkan dapat membuat mereka cepat menangkap pembelajaran baru yang akan diperoleh.
Pada 3 Februari 2026, YKAN memberangkatkan tiga anggota Bintang Ratu, yaitu Sri Ngatoyah, Rastita, dan Siti Sulkha, beserta Dhea Anjelina, anggota dari kelompok usaha perempuan OKI baru yang terbentuk karena terinspirasi Bintang Ratu, yaitu Maju Jaya.
“Ini pertama kalinya kami naik pesawat, tapi harus langsung terbang tiga kali, dari Palembang transit di Jakarta, lalu transit lagi di Surabaya, barulah menuju Berau. Pegal dan melelahkan, tapi kami sangat antusias,” kata Sri.
Destinasi studi banding pertama di Berau berlokasi di Kampung Tubaan, Kecamatan Tabalar. Dua kelompok dari OKI dan empat kelompok dari Berau pun bergiliran saling berbagi tentang profil usaha dan produknya.
Produk Bintang Ratu yang paling membuat kelompok perempuan Berau tertarik adalah kukis nipah. Teksturnya unik seperti biskuit bergizi bayi, dengan dua opsi rasa, yaitu original dan cokelat. Sri Ngatoyah pun berkesempatan mendemonstrasikan proses pengolahan bahan mentahnya menjadi tepung.
Sesi demonstrasi cukup menarik karena Bintang Ratu turut membawa buah nipah jauh-jauh dari OKI. Buah nipah pun dibelah, dicongkel, ditumbuk, lalu dicacah hingga menjadi tepung yang nantinya dapat diolah menjadi kukis. Setelah mencicipi rasa dan menyaksikan proses pembuatannya, sejumlah kelompok di Kampung Tubaan pun tertarik mencoba menirunya.
Sebaliknya, kelompok perempuan Tubaan juga menampilkan produk olahan yang tak kalah unik, misalnya snack kepala udang, kulit bandeng, sambal udang, dodol mangrove, hingga sabun pidada. Kelompok dari OKI juga diajak mendemonstrasikan cara pembuatan dodol mangrove.
Snack kepala udang adalah produk olahan dari bagian tubuh udang yang biasanya tidak dikonsumsi, tapi memiliki nutrisi yang tinggi. Begitu juga dengan kulit bandeng sebagai snack kering yang disajikan mirip seperti snack kulit ikan salmon Irvins, produk makanan ringan populer asal Singapura.
Sementara produk olahan non-makanan ada sabun yang dibuat dari buah pidada, salah satu spesies mangrove, yang menghasilkan wangi khas. Tertarik dengan sabun pidada, Sri berujar ini adalah produk yang paling ingin Bintang Ratu coba untuk kembangkan karena dianggap paling unik.
Manajemen Usaha sebagai Faktor Kunci
Destinasi studi banding kedua ada di Kampung Bohesilian, Pulau Maratua. Kelompok OKI kali ini belajar manajemen usaha dari Kelompok Mentari. Kelompok ini memiliki produk kudapan yang relatif mudah dibuat, seperti sarang semut, sirup daun kemangi, keripik pisang, dan kerupuk ikan.
Akan tetapi, dengan kemampuan manajemen yang terampil, mereka mampu menghasilkan produk berkualitas yang laris berkat keluwesan mereka dalam pemasaran. Setiap tahunnya, kelompok ini bahkan mampu memberangkatkan anggotanya untuk outing ke tempat wisata,
Dari Kelompok Mentari, ibu-ibu dari OKI turut belajar bagaimana mengelola tim, melakukan pencatatan yang rapi, agresif dalam memasarkan dan memasukkan produk ke mitra-mitra.
Selain itu, kelompok dari OKI juga belajar tentang manajemen organisasi, khususnya pembagian peran. Untuk kelompok usaha rumahan, tak semua anggota perlu melakukan semua hal. Pekerjaan spesifik seperti produksi dan pemasaran perlu dikerjakan oleh orang yang berbeda.
Kelompok Mentari bercerita, ketua perlu memahami dua aspek tersebut walau tidak harus sepenuhnya terlibat. Namun ketua perlu memotivasi tim agar dapat melakukan produksi secara konsisten sesuai dengan permintaan pasar yang sudah diperoleh.
Aspek-aspek inilah yang berhasil membuat Kelompok Mentari yang beranggotakan sembilan orang dapat meraup keuntungan bersih hingga 70 juta rupiah pada 2025, sehingga dapat memberikan tambahan pendapatan yang cukup signifikan bagi keluarganya.
Sementara destinasi terakhir berada di Kampung Teluk Semanting, yaitu Kelompok Tenggiri. Kelompok ini juga memiliki produk yang relatif mudah dibuat, yaitu kerupuk ikan.
Walau produknya relatif sederhana, namun Kelompok Tenggiri mampu menggaji ketujuh anggotanya hingga kurang-lebih enam juta per bulan. Kunci keberlanjutan kelompok ini ada di kualitas produk yang juga diiringi dengan konsistensi untuk memasok produk.
Bintang Ratu dan produk andalannya, kukis nipah, yang terbuat dari buah nipah (salah satu spesies mangrove). ((ANTARA/HO-YKAN))
Zuhainah, selaku Ketua Kelompok Tenggiri, menjelaskan bahwa konsistensi produksi kelompoknya juga ditopang dengan inovasi teknologi sederhana untuk mengatasi segala keterbatasan. Misal, ketika kesulitan membuat adonan tepung dan daging ikan dalam jumlah besar, Zuhainah berinisiatif mencari bengkel yang mampu membuat alat tersebut secara custom dengan mesin motor.
Lesson Learned dari Ujung Timur Kalimantan
Perjalanan lintas pulau ini mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun bagi Sri Ngatoyah dan Bintang Ratu, pengalaman tersebut membuka cakrawala baru.
Bagi Sri, pelajaran paling penting justru datang dari cara mereka mengelola organisasi. “Produk bagus saja tidak cukup, harus ada yang pembagian tugas, inovasi untuk mencari jalan keluar, dan konsistensi,” ujarnya.
Kelompok dari OKI dan Berau memiliki sejumlah tantangan yang serupa, dan mungkin juga solusi yang mirip. Aspek-aspek non-teknis yang didapatkan selama studi banding inilah yang juga menginspirasi Bintang Ratu untuk meningkatkan kemampuan organisasinya.
“Perjalanan ke Berau memberikan kami banyak pengetahuan baru. Kami berharap dapat menerapkan ilmu-ilmu baru yang kami peroleh dari Berau, sehingga Bintang Ratu dapat semakin bertumbuh,” tegas Sri Ngatoyah dengan optimis.
Sri kini tak lagi sekadar menunggu pasang surut pesisir. Ia sedang menyiapkan pasang baru bagi kelompoknya. (*)
*Penulis adalah Communication & Reporting Officer Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN)

