Kandangan, EKSPOSKALTIM – Kepala Jumaidi (40), korban bentrokan maut antar-desa di Muara Ulang, Loksado, Kalimantan Selatan, akhirnya ditemukan. Organ tubuh yang terpenggal itu ditemukan di bawah pohon di kawasan pegunungan Meratus, jauh dari lokasi bentrok.
“Benar, memang sudah ditemukan organ kepalanya kemarin siang,” kata Kasi Humas Polres Hulu Sungai Selatan (HSS), Iptu Purwadi, Rabu (4/6), dikontak media ini.
Penemuan dilakukan tim gabungan Polres HSS dan Hulu Sungai Tengah (HST) saat menyisir area sekitar. Sebelumnya, jasad Jumaidi ditemukan dalam posisi terduduk tanpa kepala di hutan sekitar Bangkauan, Desa Muara Ulang, HSS.
Beberapa hari kemudian, kepalanya ditemukan beberapa kilometer dari lokasi pertama, tepatnya di daerah Kumuh, Kabupaten HST.
Ditanya soal pelaku pemenggalan, Purwadi menjawab singkat, “Masih penyelidikan.”
Kepala korban kemudian diserahkan ke keluarga untuk dimakamkan sore harinya. Jumaidi dikenal sebagai petani, mualaf, dan ayah tiga anak, salah satunya masih balita. Ia dikenal pendiam, aktif mengikuti majelis taklim dan kegiatan shalawat di kampungnya.
Kronologi dan Dugaan Motif
Penyelidikan awal menunjukkan Jumaidi tewas dikeroyok imbas bentrokan antar-desa yang dipicu sengketa tapal batas. Ia datang ke lokasi bentrok dengan membawa mandau, kabarnya untuk menolong adik iparnya. Namun, ia tak sempat bertemu sang adik. Di perjalanan, ia justru bertemu tiga pria diduga dari desa tetangga yang kemudian menyerangnya.
Selain Jumaidi, korban lain bernama Andri juga terluka akibat senjata tajam.
“Iya, benar ada korban kedua,” ujar Purwadi.
Mayat Jumaidi ditemukan warga di tepi sungai pada Sabtu pagi (31/5). Malam sebelumnya, Jumat (30/5), terjadi bentrok antarwarga Desa Muara Ulang (Kabupaten HSS) dan Desa Kundan, Kecamatan Hantakan (Kabupaten HST).
Seorang kerabat menyatakan sempat melihat perkelahian sekitar tiga kilometer dari rumah mereka. Jumaidi yang membawa mandau sempat terlihat menuju lokasi, namun tak pernah kembali. Saat ditemukan, tubuhnya penuh luka bacok dan tusuk, dengan sebilah mandau masih menancap.
“Paman saya dikeroyok oleh puluhan orang,” kata sang kerabat.
Langkah Pengamanan
Untuk mencegah bentrok susulan, aparat menurunkan personel Satsabhara ke lokasi. Polda Kalsel juga ikut turun tangan.
“Kami terus berupaya untuk mencegah bentrok susulan,” ujar Purwadi.
Sengketa batas wilayah ini kini menjadi atensi kepolisian meski penyelesaiannya belum menemukan titik terang.
“Ini melibatkan dua wilayah,” tambahnya.

