Bontang, EKSPOSKALTIM – Pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bontang masih menghadapi kendala. Hingga pertengahan Juli 2025, belum semua dapur MBG siap beroperasi. Sejumlah dapur masih dalam proses renovasi dan sebagian lainnya belum memiliki mitra penyedia.
Koordinator Program MBG wilayah Bontang, Suryadi Saputra, menyampaikan bahwa program ini merupakan inisiatif Presiden RI Prabowo Subianto yang masuk dalam delapan program prioritas percepatan menuju Generasi Emas 2045.
"Di Bontang, kami targetkan 14 hingga 16 dapur. Tapi saat ini masih ada kebutuhan sekitar tujuh dapur tambahan. Beberapa masih direnovasi, seperti di Bontang Selatan dan Bontang Utara,” ungkapnya.
Program MBG tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Untuk itu, kebutuhan dapur dan distribusi makanan terus meningkat.
Namun, menurut Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Rufaidah Safira, tantangan terbesar saat ini adalah minimnya mitra yang siap bekerja sama. Sistem kerja sama Badan Gizi Nasional (BGN) mengharuskan calon mitra menyiapkan modal awal yang cukup besar.
“Modelnya sewa ke mitra, tapi mitra harus siapkan bangunan, alat dapur, dan kendaraan distribusi. Ini jadi kendala karena butuh investasi awal yang tidak kecil,” jelasnya.
Rufaidah menambahkan, pihaknya masih menunggu calon mitra yang memenuhi standar operasional yang ditetapkan BGN agar dapat segera menyalurkan makanan kepada kelompok sasaran.
Suryadi juga membuka peluang bagi siapa saja yang ingin bermitra atau menjadi investor MBG. Ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong ekonomi lokal.
“Karena ini padat karya, kami libatkan warga sekitar dapur sebagai relawan, mulai dari memasak, distribusi, sampai pengepakan. Harapannya, program ini menciptakan efek ganda bagi masyarakat,” pungkasnya.

