Samarinda, EKSPOSKALTIM – Sebanyak 1.282 orang utan liar yang hidup di Bentang Alam Wehea-Kelay, Kalimantan Timur, kini berada dalam tekanan. Habitat mereka terancam oleh berbagai aktivitas manusia. Menyikapi hal itu, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka kerja sama riset jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan ekosistem tersebut.
Bentang Alam Wehea-Kelay, yang mencakup wilayah Kabupaten Kutai Timur dan Berau, merupakan salah satu kawasan hutan tropis penting di Kalimantan. Selain orangutan, wilayah seluas 532 ribu hektare itu juga menjadi rumah bagi 77 jenis mamalia, 271 jenis burung, dan 117 jenis herpetofauna.
Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, mengatakan riset ini tidak hanya akan menggunakan metode konvensional, tetapi juga pendekatan teknologi canggih seperti kamera jebak, bioakustik, hingga environmental-DNA (e-DNA).
“Kami sangat terbuka terhadap pengembangan teknologi untuk konservasi. Tujuannya, agar kita bisa memahami dan menjaga ekosistem secara lebih efektif,” ujarnya, Senin (14/7).
Kerja sama dengan BRIN akan berlangsung selama lima tahun, mulai 2025 hingga 2030. Fokusnya adalah mengembangkan laboratorium riset terbuka di kawasan hutan, serta mendalami ekologi satwa liar, kualitas lingkungan, dan dinamika perubahan habitat.
YKAN menilai kolaborasi ini juga penting untuk penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis budaya lokal. Hutan Lindung Wehea sendiri telah menjadi lokasi riset sejak 2007, dan dikelola menggunakan hukum adat Dayak Wehea.
“Ini bukan sekadar riset, tapi cara menjaga warisan alam dan budaya secara berkelanjutan,” tambah Herlina.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Delicia Yunita Rahman, menyatakan bahwa kerja sama ini akan menghasilkan temuan ilmiah penting sebagai dasar rekomendasi untuk pengelolaan ekosistem hutan tropis.
“Kaltim punya 13 juta hektare hutan, rumah bagi lebih dari 1.500 jenis flora-fauna, termasuk spesies endemik. Hutan adalah sumber kehidupan dan pengetahuan. Kita perlu pendekatan ilmiah untuk menjaganya,” ujarnya.
Selain Wehea-Kelay, kolaborasi ini juga akan menjangkau kawasan hutan tropis lainnya di Kalimantan yang memiliki nilai ekologis tinggi dan rentan terhadap degradasi.

